SECANGKIR KOPI HIDUPKU #23
Administrator 24 April 2020 21:37:18 WIB
Penegakan hukum di era reformasi ini merupakan salah satu prioritas pemerintah Indonesia. Maka aku sangat memahami atas hukuman yang harus dijalani istriku. Walaupun sesungguhnya hatiku menjerit ketika mendengar hakim menjatuhkan pidana dua tahun pada istriku, namun aku tak berdaya. Ruang sidang seolah mau roboh menimpa diriku. Dalam ketidakberdayaan aku mendengar bahwa pengacara yang mendampingi istriku menyatakan banding. Tapi dalam hatiku sudah pasrah, karena aku tak akan mampu membayar pengacara itu lagi. Dia mau berjuang membebaskan istriku dari jerat hukum demi uang. Bukan demi kebenaran atau keadilan. Apalagi kalau dia bilang demi kemanusiaan. “Nonsense!” teriakku dalam hati. Aku percaya pada anekdot yang mengatakan bahwa pengacara tak mungkin melupakan lagu kebangsaannya. Para pengacara memiliki lagu kebangsaan sendiri yaitu Maju Tak Gentar Membela yang Bayar. Tidak ada yang salah dengan anekdot itu. Semua orang memahami bahwa pengacara adalah orang yang profesional. Sudah sewajarnya kalau jasanya juga mahal.
Aku berusaha menjalani masa-masa sulit bersama putriku dengan penuh ketabahan. Namun persoalan hidup yang kian berat membuatku hampir putus asa. Rasa sesal dan sakit mencabik-cabik hatiku.
Aku menengadah ke langit. Kulihat Lintang Ayu tersenyum memandang kami. Seolah aku melihat bintang kehidupan baru telah bersinar. “Tuhan, tolonglah kami agar mampu menjadi orang tua yang bijaksana dan penuh kasih.” Walaupun harus menjadi seorang single parent karena istriku dipenjara, aku berusaha tabah. Aku harus bisa meninggalkan masa lalu yang penuh kenangan pahit dan menatap masa depan dengan penuh harapan. Tak ada gunanya menyesali kehancuran, lebih baik aku menata serpihan asa yang masih tersisa.
Mengurus anak sudah kulakukan sejak istriku belum dipenjara. Anakku juga sudah terbiasa hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Namun persoalannya menjadi lebih berat ketika istriku menjadi seorang narapidana. Cibiran masyarakat menjadi beban psikologis yang berat bagi kami, terutama bagi anakku. Aku khawatir dengan kondisi kejiwaan anakku. Dia merasa malu pada teman-teman sekolahnya. Terpaksa aku harus memindahkan sekolahnya, dengan harapan suasana baru bisa membuatnya lebih nyaman. Demi masa depan yang lebih baik, kami memutuskan untuk pulang ke desa kelahiranku. Sementara kutinggalkan kota Ngawi yang penuh duka lara. Namun pada saatnya nanti, aku pasti kembali. Apapun telah kukorbankan demi keluargaku. Walaupun harus kehilangan seluruh harta benda dan pekerjaan, aku masih mampu berjalan dengan kepala tegak karena aku masih mempunyai cinta dan asa. Aku akan tetap berjuang demi hidup yang lebih bermartabat.
T A M A T
Ngawi, 21 Oktober 2017
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1446 H
- LIBUR DAN CUTI BERSAMA PEMERINTAH KALURAHAN PETIR
- PENGAJIAN RUTIN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH
- SAFARI TARAWIH TIM KAPANEWON RONGKOP DI PADUKUHAN NGURAK URAK
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN WERU
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN DADAPAN
- PENGAJIAN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH