SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 2
Administrator 26 Juli 2019 14:11:59 WIB
Lewat kisah ini kutumpahkan segudang rasa yang membuncah dalam dada. Sebuah kisah usang tentang hidup dan kesetiaan. Lintang Ayu adalah masa lalu yang tak terhapuskan dari deretan puisi cinta. “Kau indah laksana bintang. Walau mendung datang bergulung sinarmu tetap cemerlang....” Fantasiku terbang tinggi bersama Lintang Ayu. Bagai sepasang burung camar, kami terbang melintasi samudera sampai akhirnya terhempas di atas hamparan pasir pantai Siung yang masih perawan. “Lintang Ayu, masih ingatkah kau?” Kala itu kulukis wajah cantikmu dengan segenap hati. Seolah engkau tersenyum padaku. Namun saat gelombang pasang mendera lenyaplah segala kecantikanmu. Akhirnya kusadari bahwa mendamba cintamu bagaikan melukis di atas pasir.
Kisah ini bagaikan roman picisan, namun sarat warna kehidupan. Lintang Ayu, sesungguhnya hanyalah gadis idola dalam fantasiku. Cintaku padanya hanya bermekaran dalam mimpi. Walau mimpiku tak menjadi nyata, namun aku tak patah hati. Dengan api cinta yang berkobar aku terus berlari mengejar mimpi. Seribu kota kusinggahi dengan harapan bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Walaupun rasa lelah menyiksa diri, aku tak pernah berhenti berharap. Aku tetap menggenggam segunung cinta dan asa. Pada saatnya nanti aku pasti akan berjumpa Lintang Ayu, kekasih hatiku. Aku ingin melihat senyumnya. Aku ingin melihat indah bola matanya. Aku ingin memeluknya dan merasakan damainya cinta.
Berpuluh bahkan terasa beratus tahun lamanya aku mengejarnya. Dengan rasa letih dan perih akhirnya kuputuskan untuk berhenti mengejar mimpi. Kutinggalkan kota Wonosari dengan segala gundah gulana di dada. Ingin kucari dunia baru yang damai. Kemana kaki melangkah terasa tak tentu arah tujuan. Pengembaraan hati ini akhirnya tersesat di sebuah rimba belantara. Aku tersesat diantara rimbunnya hutan jati yang terhampar luas di perbatasan kota Ngawi.
Di kawasan hutan jati inilah mulai kubangun istana mimpi. Kicau burung dan nyanyian alam yang damai menambah semangat hidupku. Sejuknya embun pagi menyegarkan kegersangan hati yang telah lama kering. Kutelusuri lebatnya hutan jati yang nyaris tak bertepi. Ketika kutemukan sekuntum anggrek hutan yang cantik, hatiku langsung jatuh cinta. Aku yakin bahwa anggrek yang suci tak akan kutemui di tengah kota, melainkan di tengah hutan. Maka kuputuskan untuk memetik dan merawat anggrek yang indah itu. Aku berharap anggrek itu akan mekar mewangi menghiasi hidupku.
Jika suatu hari nanti Lintang Ayu menjelma sebagai bidadari, aku berharap dia akan tersenyum memandang indahnya bunga anggrek yang mekar di taman hatiku. Cintaku yang sedang mekar menebarkan aroma semerbak dan membuatku semakin romantis. Sekuntum anggrek indah yang mekar di taman hati itu sesungguhnya bernama Monica Anggraeni. Entah karena apa orang memanggilnya Anggrek. Bunga anggrek sesungguhnya tak memiliki konotasi apapun dalam kisah cinta dan kesetiaan. Berbeda dengan bunga mawar yang melambangkan kemesraan atau bunga matahari yang penuh kesetiaan. Kebetulan di depan rumahku tumbuh bunga matahari yang sedang mekar. Aku jadi teringat kisah klasik dari negeri Yunani tentang bunga matahari. Konon ada seorang gadis cantik yang jatuh cinta pada dewa matahari. Setiap hari dia tak pernah berhenti memandang dan mengagumi Dewa Matahari. Dia berharap cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Dengan tulus dan penuh kesetiaan, sang gadis terus memandang Dewa Matahari. Namun Dewa Matahari tak mempedulikannya. Dewa Matahari telah memiliki cinta yang besar dan luas terhadap dunia. Dewa Matahari telah memberikan cintanya secara total bagi kehidupan dunia. Sang gadispun sesungguhnya tahu hal itu. Namun cintanya yang tulus tak bisa melunturkan kesetiaannya. Untuk membuktikan kesetiaannya, dia berdiri memandang matahari selama berhari-hari tanpa berhenti. Keajaibanpun terjadi. Tanpa disadari hari demi hari sang gadis mengalami metamorfosis aneh yang tidak pernah terjadi pada makhluk apapun. Kedua belah kakinya berubah menjadi akar yang kokoh menembus tanah. Tubuhnya perlahan berubah menjadi pohon dan mulai tumbuh daun dan ranting. Pada akhirnya sang gadis yang penuh cinta dan kesetiaan itu dikenal sebagai bunga matahari.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1446 H
- LIBUR DAN CUTI BERSAMA PEMERINTAH KALURAHAN PETIR
- PENGAJIAN RUTIN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH
- SAFARI TARAWIH TIM KAPANEWON RONGKOP DI PADUKUHAN NGURAK URAK
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN WERU
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN DADAPAN
- PENGAJIAN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH