SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 6

Administrator 23 Agustus 2019 13:43:06 WIB

Di tengah tekanan batin yang dahsyat, indra keenamku yang telah lama mati hidup kembali dan membuat mata hatiku menjadi tajam. Roh pengertian menunjukkan sesuatu yang tak bisa kulihat dengan mata telanjang. Banyak  hal yang tak masuk akal sering kualami. Karena beberapa kejadian aneh yang kualami, temanku ada yang menyarankan agar aku ke psikiater. Mereka mengira aku mengalami depresi berat sehingga kehilangan akal sehat. Namun aku tidak peduli. Aku yakin bahwa yang kualami ini nyata.

Suatu saat aku bertemu dengan seorang ahli spiritual yang di kalangan kaum supra natural dikenal dengan sebutan Pendergom. Aku berkenalan dengan lelaki tua ini secara tak sengaja. Di bawah pohon mertega yang rimbun di depan pasturan aku berpapasan dengannya. Sejak pertemuan itu kami sering bertemu dan berdiskusi tentang banyak hal. Pada saat aku merasa perlu mengurai kebekuan hati, dia bisa menjadi teman curhat yang nyaman. Ketika kuceritakan tentang segala yang kualami, dia tersenyum.

“Saya dianggap tidak normal karena bisa melihat sesuatu yang belum terjadi. Sebaiknya apa yang harus saya lakukan?”

“Ikuti kata hatimu. Kamu memiliki kelebihan itu sejak lahir. Jangan takut, roh pengertian yang membimbingmu. Sekarang dengarkan kata hatimu dan lihatlah apa yang akan terjadi? Katakan padaku dan aku akan membantumu.” Suasana menjadi hening. Seolah di depan mataku ada sebuah monitor yang sangat jelas menampilkan kronologi peristiwa yang akan terjadi. Aku segera mengatakan sebagian dari apa yang kulihat menggunakan mata hati. Semoga ini bukan halusinasi.

“Besuk sekitar jam lima sore seorang polsus yang berniat menggagalkan pernikahanku akan memasang syarat yang dibawa dari dukun Ngronggi. Orang itu akan datang dari arah barat dan meletakkan sesuatu di pojok depan rumah calon mertua. Tepatnya dia akan melemparkan bungkusan kecil di bawah pohon jambu air.” Aku mengatakan keanehan yang kulihat padanya. Lelaki kurus berambut putih itu menatapku penuh wibawa.

“Cukup. Semoga Tuhan memberkatimu.”

“Boleh saya mengajak teman untuk membuktikan apa yang akan terjadi?” tanyaku ragu.

“Lakukanlah sesuai kata hatimu.”

Bayangan lelaki yang berniat jahat itu tak bisa hilang dari benakku. Kuceritakan apa yang kualami pada temanku Sugiarto dan Nurwahyudi. Setelah berdiskusi tentang segala kemungkinan yang akan terjadi, kami bertiga  sepakat untuk melaksanakan aksi yang irasional itu. Pada saat itu kami bertiga sangat kompak karena sama-sama masih bujang dan bekerja sebagai guru di sekolah yang sama. Pada saat inipun profesi kami masih sama tetapi tempat tugas kami yang berbeda, namun masih di wilayah Ngawi.

Sore itu kami bertiga ke rumah calon mertua untuk membuktikan apa yang akan terjadi. Sugiarto sebagai seorang guru olah raga yang memiliki keahlian bela diri telah siap melindungiku jika terjadi sesuatu. Persiapan ala James Bond telah kami lakukan. Beberapa saat setelah kami bertiga menunggu, orang yang kami tunggu benar-benar datang. Tepat seperti yang kuceritakan sebelumnya. Begitu melihat lelaki itu menghentikan sepeda motornya di dekat pohon jambu air dan merogoh saku jaketnya, aku segera berlari diikuti kedua temanku. Lelaki yang sebenarnya telah bersekongkol dengan calon mertuaku itupun kabur. Melihat hal itu ibu calon mertuaku tersentak. Namun aku tak punya waktu untuk mempedulikannya lagi. Kami bertiga berusaha mengejar, tapi lelaki itu cepat menghilang. Mungkin bersembunyi di rumah selingkuhannya atau di warung dekat pertigaan dusun  itu. Kami berhenti di warung Pak Sandim dengan harapan mendapatkan informasi tentang lelaki itu. Aku hanya ingin memastikan pada temanku, bahwa yang kukatakan itu benar. Namun ketika kutanyakan pada orang di warung itu, orang yang kutanya tampak merahasiakan sesuatu. Agar tidak mencurigakan, maka kami bertiga memesan kopi. Kopi yang masih panas buru-buru kami habiskan karena sudah terdengar suara adzan maghrib. Kedua temanku akan segera menjalankan kewajiban sholat.

Sejak saat itu aku mencemaskan calon istriku. Apalagi dia sering sendirian di rumah. Demi keselamatan calon istriku maka kusarankan dia meninggalkan rumah. Walaupun melanggar norma terpaksa kulakukan. Aku minta ijin pada ibu kos dan Pak Rt agar calon istriku diperbolehkan tinggal di gang Wilis Ngawi untuk sementara waktu. Untunglah ibu kosku sangat baik dan pengertian. Berkat bantuan ibu kos dan keluarganya segala urusanku berjalan mulus. Monica Anggraeni, calon istriku, yang memiliki tekat kuat untuk memperjuangkan cintanya membuatku juga semakin berani menghadapi segala resiko yang akan terjadi. Aku semakin yakin akan ketulusan cintanya.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung