SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 7

Administrator 30 Agustus 2019 13:58:38 WIB

Setelah mengalami berbagai hambatan, pernikahan kami akhirnya bisa berlangsung. Kami diberkati di gereja Santo Yosef Ngawi pada tanggal 31 oktober 1993. Malam harinya sebelum pernikahan, aku mengalami beberapa  peristiwa aneh. Pada awalnya air bunga dalam gelas yang kupegang tampak mengeluarkan asap, kemudian adik iparku mendadak sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Tak lama kemudian seekor ular hijau meluncur dari atap rumah dan nyaris menggigitku. Untunglah kakek Diman, lelaki tua yang buta itu cekatan. Ular yang tiba-tiba meluncur di depanku itu dengan sigap ditangkapnya. Walaupun kakek Diman buta, tapi mata hatinya sangat tajam. Malam itu memang aku memintanya untuk datang dan berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tak kami inginkan. Ternyata kekhawatiranku memang terjadi.

“Apa lagi yang akan terjadi mas?” pertanyaannya memancingku.

“Besuk siang sebelum saya melangkah di bawah tarup agung, akan ada seorang wanita pingsan. Orang itu selingkuhan polsus yang ingin menggagalkan pernikahanku. Besuk rahasianya akan terbongkar dan kelak perempuan itu akan diceraikan suaminya.”

“Hati-hati mas. Cobaan masih berat.” Dia menepuk pundakku

“Terima kasih. Maaf di sini tidak nyaman, saya mau pulang.” Akupun segera berpamitan pada beberapa kerabat agar tidak menimbulkan pertanyaan. Malam itu sebenarnya mertuaku menggelar pesta besar dengan hiburan gambyong. Namun aku memilih tidur di kontrakan ditemani Nurwahyudi. Dia sangat setia menemani perjuanganku untuk mendapatkan istri cantik.  

Pagi itu kami saling menerimakan sakramen pernikahan di depan altar gereja Santo Yosef Ngawi. Alunan lagu bahagia dari paduan suara yang dipimpin oleh suster Yudith menggema ke dalam jiwa. Tangis bahagia tak bisa kutahan saat aku bersujud memohon doa restu ibu. Terbayang ayah yang telah tiada. Kata-kata terakhirnya sebelum meninggal membuat hatiku semakin pedih. Namun kata-kata ibu segera membuatku tegar kembali. Cepat-cepat kuusap air mataku dan melanjutkan prosesi pemberkatan. Setelah prosesi di gereja,  dilanjutkan resepsi adat Jawa di rumah mertua. Menjelang acara adat temu pengantin di bawah tarup agung, apa yang kukatakan pada kakek Diman benar-benar terjadi. Aku semakin bisa melihat dengan jelas setiap peristiwa penuh misteri yang terjadi di sekitarku. Kemampuan batinku yang telah tenggelam di tengah kebodohan duniawi benar-benar telah bangkit kembali.

Walaupun penuh cobaan namun resepsi berlangsung meriah dan sukses. Tata rias dan dekorasinya merupakan bantuan Pak Siswondo. Dia temanku mengajar di satu sekolah. Kebetulan istrinya seorang perias. Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih atas segala bantuan dari semua pihak yang tak mungkin mampu kubalas. Semoga segala kebaikan mereka mendapatkan berkah yang melimpah dari Tuhan.

Bagaikan Rama dan Sinta yang penuh cinta kami memulai hidup berumah tangga. Aku berjanji untuk menjadi suami yang ideal. Seorang suami idealnya memiliki pekerjaan tetap dan kepribadian yang tangguh, sehingga mampu menjadi sandaran hidup yang kokoh bagi keluarga. Ironisnya sebagai suami aku sangat tidak ideal seperti itu. Sebab pada saat itu aku hanya seorang guru honorer dengan gaji sangat minim. Untunglah aku bisa mendapat honor tambahan dari majalah bila tulisanku dimuat. Namun penghasilan itu tak bisa kuandalkan karena aku hanyalah seorang pengarang amatir.

Aku bersyukur karena istriku bisa memahami segala keterbatasanku dalam memberikan nafkah. Kebahagiaan kami semakin sempurna saat lahir anak pertama kami. Bayi laki-laki yang lahir penuh cinta ini kami beri nama Thomas. Dia bagaikan malaekat yang membawa keberuntungan bagi kami. Malaekat kecilku ini menjadi sumber kebahagiaan bagi seluruh keluarga. Mertuakupun menyambut kelahiran cucu pertamanya dengan penuh suka cita. Akupun semakin mendapat tempat istimewa sebagai menantu yang disayangi mertua. Aku benar-benar bersyukur karena setelah kelahiran anakku, keberuntungan demi keberuntungan terus kami dapatkan. Yang sangat membahagiakan adalah saat aku diterima sebagai pegawai negeri (PNS). Pada akhir tahun 1994 kebetulan ada tes penerimaan CPNS dan aku ikut mengadu nasib. Berkat Tuhan, aku diterima sebagai PNS. Walaupun pada masa orde baru, banyak anggapan bahwa untuk menjadi PNS harus menggunakan uang pelicin, tapi aku tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Aku hanya mengandalkan doa dan usaha. Buktinya aku  diterima tanpa uang pelicin. Walaupun harus bertugas di Nusa Tenggara Barat aku tak keberatan. Aku ditempatkan di SMP Negeri 3 Kopang Lombok Tengah. Namun  awal perjalanan dinasku tidak mulus. Gara-gara terjadi kesalahan  pada SK, yang seharusnya Kopang tertulis Kapong menimbulkan masalah. Aku tidak bisa menerima gaji sebelum SK dibetulkan. Untunglah kepala sekolahku bapak Lalu Muksin bijaksana. Aku disarankan mengurus ke Jakarta dan setelah beres baru kembali ke Lombok. Dengan semangat yang besar aku berangkat ke Jakarta. Sebelumnya aku mencari informasi sebanyak mungkin agar usahaku lancar. Akhirnya aku bertemu dengan seorang pegawai BAKN yang bernama Kasino. Perkenalan kami terjadi secara kebetulan dan segera terjalin komunikasi yang baik. Dia menawarkan untuk mengusahakan SK baru dan langsung ditempatkan di Ngawi. Pada saat itu aku diminta menyiapkan uang satu juta lima ratus ribu rupiah untuk mengeluarkan Nota BAKN yang baru katanya. Tapi pada tahun 1995 uang sebanyak itu, sulit kudapatkan. Maka aku memilih mengikuti prosedur resmi walaupun harus siap dipingpong dari meja satu ke meja yang lain. Begitulah cermin buram buruknya birokrasi di negeri ini. Delapan bulan lamanya pembetulan SK CPNSku baru selesai. Foto copi SK yang sudah dibetulkan segera kukirim ke unit kerjaku. Setelah mendapat informasi bahwa gajiku sudah  bisa dicairkan, aku berangkat ke  Lombok. Pada awalnya aku berangkat sendiri. Istri dan anakku kutinggalkan di rumah mertua. Setelah rumah dan segala keperluan rumah tangga siap, kami pindah ke Lombok. Berkat Tuhan sungguh luar biasa, sebelum berangkat ke Lombok kebetulan aku menerima honor dari majalah Hidup Jakarta. Cerita bersambungku yang berjudul “Nyanyian Natal” ternyata bisa mengantarkan kami ke Lombok. Kami diantar ayah ibu mertua dan adik iparku dengan penuh suka cita. Honor Nyanyian Natal yang kuterima cukup untuk biaya perjalanan kami ke Lombok pada tahun 1996. Rasanya hidup kami semakin bahagia dan sejahtera.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung