SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 12
Administrator 25 Oktober 2019 14:18:14 WIB
Aku selalu berpikir positip dari setiap peristiwa yang terjadi. Walaupun peristiwa yang kualami tidak menyenangkan, tapi aku berusaha menemukan hikmah di balik peristiwa itu. Tragedi 171 yang memilukan inipun ternyata menjadi hikmah bagiku. Dengan alasan keamanan, aku mengajukan permohonan untuk mutasi ke Jawa. Kebetulan yang menjabat sebagai Kepala Kanwil Pendidikan Propinsi Nusa Tenggara Barat pada saat itu adalah Bapak Zulhan. Beliau berasal dari Jombang Jawa Timur. Pada awal karirnya, beliau pernah bekerja di dinas pendidikan kabupaten Ngawi Jawa Timur. Mungkin karena ada keterkaitan latar belakang sejarah seperti itulah aku diberi kemudahan yang luar biasa. Aku diberi rekomendasi untuk pindah tugas ke Jawa. Selain karena ada keterkaitan latar belakang sebagai sesama orang Jawa, aku yakin bahwa kebijakan beliau memang didasari oleh hati yang tulus. Semoga kemurahan hati beliau akan mendapat pahala yang setimpal dari Tuhan.
Dengan rekomendasi dari Kakanwil dinas pendidikan propinsi NTB, aku melangkah mulus menuju tempat tugas di Jawa. Sebenarnya aku bisa mutasi ke kota kelahiranku Yogyakarta, namun karena istriku tidak mau meninggalkan desa kelahirannya akupun mengalah. Akhirnya kuputuskan untuk mencari SMP di kota Ngawi yang bisa menerimaku.
Sesuai saran yang kuterima dari pejabat yang kutemui, maka aku menghadap ke bagian kepegawaian Kanwil Pendidikan Propinsi Jawa Timur. Kebetulan aku bertemu seorang pejabat di bagian dikmenum yang baik hati. Beliau bernama Wirawan. Dengan ramah beliau mempersilahkan aku ke ruangnya. Aku merasa sangat beruntung mendapat perlakuan yang ramah.
“Bapak tenang saja. Tinggal pilih mutasi ke SMPN 1, 2 atau 3 Ngawi. Semua ada formasi untuk bapak. Kalau ada kepala sekolah yang menolak hubungi saya. Ini kartu nama saya.”
“Terima kasih Pak.” Tanganku gemetar menerima kartu nama yang diberikan padaku. Dalam diam hatiku melambungkan pujian syukur pada Tuhan yang telah memberikan kemudahan segala urusanku.
“Tidak usah terlalu serius Pak. Mikir apa lagi? Apa masih ingin kembali ke Lombok?” tanyanya sambil bercanda.
“Tidak Pak.” Akupun tersenyum.
“Santai saja. Saya ingin mendengarkan cerita yang sebenarnya tentang tragedi 171 karena adik saya juga di Lombok. Saya kepikiran bagaimana nasibnya.”
“Adiknya sudah lama apa baru tinggal di Lombok?” tanyaku berhati-hati karena kulihat wajah beliau tampak menyembunyikan kegelisahan.
“Sudah, malah sudah mengakar di sana karena sudah berkeluarga. Istrinya orang Lombok.”
“Tidak perlu khawatir Pak. Keluarga Bapak di Lombok dijamin aman, karena konflik yang terjadi sebenarnya bukan konflik antar suku. Artinya tidak semua orang Jawa dimusuhi. Apalagi yang sudah menikah dengan penduduk asli sana.”
“Alkhamdulillah kalau begitu. Adik saya berarti aman.” Mendengar jawabanku, beliau tampak senang. Mendung kesedihan di wajahnya seketika sirna. Keramahannya semakin kurasakan lewat obrolan yang sesekali ditingkah dengan canda tawa. Tanpa terasa kami telah berbagi cerita begitu lama. Walaupun beliau masih memintaku untuk menemani berbagi cerita, tetapi aku tak enak hati dan segera mohon diri. Aku tahu bahwa di luar sudah banyak orang yang antri untuk menghadap beliau.
Proses pindah tugasku ke Ngawi berjalan lancar. Walaupun sebagai guru baru, aku cepat beradaptasi. Sebelum bertugas di Lombok aku sudah mengajar di Ngawi sehingga aku merasa nyaman seperti pulang kampung saja. Sikap ramah seluruh keluarga besar SMP Negeri 1 Ngawi sebagai sekolah favorit di Ngawi sungguh menyenangkan. Semoga aku bisa memberikan kontribusi bagi kemajuan sekolah ini.
Suka duka dalam perjalanan hidup memang harus kualami. Rasa nyaman yang kutemukan di lingkungan kerja berbanding terbalik dengan keadaan di rumah. Riak-riak persoalan semakin membesar menjadi gelombang dahsyat yang hampir menghancurkan bahtera keluarga besarku. Kehadiranku di keluarga ini rupanya tidak pada saat yang tepat. Pada saat itu mertuaku sedang mengalami kehancuran ekonomi karena usahanya bangkrut. Bahkan rumahnyapun harus dijual untuk menutup kebangkrutannya itu. Aku terjebak dalam situasi yang dilematis. Mertua menghendaki agar kami tetap tinggal serumah karena jarak rumah mertua ke tempat kerjaku hanya empat kilometer. Memang dilihat dari segi jarak sangat terjangkau. Namun secara psikis aku merasa kurang nyaman. Bagi mereka yang tidak tahu persoalannya akan menganggapku sebagai benalu. Tapi bila aku meninggalkan mertuaku yang sedang terpuruk rasanya seperti menantu durhaka.
Kututup mata dan telinga agar tak melihat dan mendengar hal-hal yang bisa membuatku sakit hati. Demi menjaga nama baik keluarga besarku maka kami tinggal bersama mertua. Hati ini rasanya seperti diiris saat melihat rumah besar mertuaku yang terbuat dari kayu jati dibongkar. Rumah itu harus dijual karena usahanya mengalami gulung tikar. Mertuaku tinggal memiliki sebuah rumah sederhana yang harus kami tempati untuk dua keluarga. Sepeda motor untuk kerjapun tak punya. Jika tak memiliki sepeda motor untuk kesana-kemari mencari rejeki masalahnya akan semakin berat. Bisa-bisa dapur tak mengepulkan asap lagi. Maka aku berinisiatif membeli sepeda motor walaupun dengan cara kredit. Demi menjaga nama baik keluarga, aku bilang pada tetangga dan teman-teman bahwa sepeda motor itu dibeli dari hasil penjualan rumah mertuaku. Karena selama ini aku tak pernah berdusta maka merekapun percaya. Bahkan mereka menganggapku sebagai menantu yang sangat beruntung. Memang aku merasa sangat beruntung karena besarnya kasih sayang mertuaku. Bahkan kasih sayangnya padaku mungkin lebih besar dibandingkan kasih sayang pada anaknya sendiri.
Waktu terus berlalu namun badai dalam keluarga kami tak kunjung reda. Keretakan biduk rumah tangga mertuaku semakin mengemuka. Pertengkaran demi pertengkaran sudah semakin sering terjadi dan bukan hal yang rahasia lagi. Persoalannya tidak hanya berhenti pada masalah ekonomi. Ternyata mertuaku memiliki istri simpanan. Ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirku. Aku ingin peristiwa itu kusimpan sebagai rahasia hidupku sendiri. Namun dalam hatiku bertekad untuk segera meninggalkan rumah mertua dan membangun rumah tangga sendiri. Aku berharap mereka bisa segera mengatasi badai rumah tangganya. Bagiku itu masalah yang sangat pribadi maka walaupun sebagai anggota keluarga aku tak mau melibatkan diri.
Bagaimanapun caranya aku harus memiliki rumah sendiri sehingga ketika memutuskan untuk meninggalkan rumah mertua, mereka tidak akan salah paham. Tidak ada pilihan yang lain bagiku untuk bisa segera mewujudkan impian memiliki rumah, kecuali harus pinjam bank. Dengan modal jaminan SK maka akupun mengajukan kredit multi guna ke Bank Pembangunan Daerah cabang Ngawi. Berkat kredit multi guna itulah maka pada tahun 2002 kami bisa membeli tanah dan membangun rumah sederhana. Bagaikan tinggal di istana cinta kami hidup bahagia. Namun seiring perjalanan waktu, ternyata gemerlap dunia menggoda hati istriku. Gaya hidupnya mulai berubah. Istri cantikku yang terlahir sebagai gadis desa lugu terobsesi menjadi artis. Hobinya bernyanyi mendorongnya untuk dibelikan seperangkat alat karaoke. Demi kebahagiaan istri tercinta, permintaannyapun kupenuhi karena selama ini dia tak pernah meminta sesuatu dariku. Istana kecilku kini semakin semarak penuh keceriaan. Suara merdu istriku membuat rumahku berubah menjadi studio musik. Kegilaannya untuk menjadi penyanyi tak bisa kukendalikan sejak ibu mertuaku memperkenalkan pada tante Harti. Tante Harti adalah seorang sinden terkenal di Ngawi. Pada awalnya aku mengijinkan kalau hanya sekadar menyalurkan hobi, tapi kalau menjadi penyanyi campursari tak pernah kuiijinkan.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1446 H
- LIBUR DAN CUTI BERSAMA PEMERINTAH KALURAHAN PETIR
- PENGAJIAN RUTIN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH
- SAFARI TARAWIH TIM KAPANEWON RONGKOP DI PADUKUHAN NGURAK URAK
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN WERU
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN DADAPAN
- PENGAJIAN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH