SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 13

Administrator 02 November 2019 13:19:13 WIB

Obsesinya menjadi seorang penyanyi ternyata membuat ketulusan cinta istriku luntur. Aku mulai gelisah ketika istriku mulai menerima job sebagai penyanyi Campursari untuk pesta pernikahan. Dalam waktu singkat pergaulan bebas ala selebritis telah merubah segalanya. Api cemburu dan sumpah serapah dalam dadaku membuncah ketika pada tahun 2003 mulai masuk pria lain di hatinya. Dia mengatakan padaku bahwa pria lain yang telah menjadi duri rumah tanggaku itu masih ada hubungan saudara dengan istriku. Namun akhirnya aku tahu bahwa dia orang lain yang tak memiliki hubungan keluarga sama sekali. Kehadiran orang ketiga ini menjadi awal kehancuran kebahagiaan rumah tangga kami. Aku mulai sakit hati luar biasa ketika istriku berboncengan mencari makan sea food di dekat Polsek Ngawi kota. Istriku dengan mesranya bersama lelaki lain dan sama sekali tak menjaga perasaanku sebagai suami. Kecurigaanku semakin kuat  ketika istri simpanan lelaki itu yang berdomisili di desa Papungan kecamatan Pitu melabrak istriku karena cemburu. Kehadiran lelaki itu di rumahku  yang tak kenal waktu membuatku semakin curiga. Bahkan pada saat aku mengajar, dengan leluasa dia datang ke rumah. Dengan bebas dia berbuat apa saja seperti di rumah sendiri. Makan, minum, mandi dan tentu juga melakukan hal yang lain. Selain aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, temanku Parjimin bersama istrinya pernah memergoki istriku sedang bermesraan dengan lelaki itu. Bahkan tidak hanya sekali. Ketika kejadian itu disampaikan kepadaku, demi keutuhan keluarga aku berusaha menutupinya. Tetapi bisik-bisik tetangga semakin keras terdengar dan menyakitkan hatiku. Sikap istriku yang berlebihan jika sedang dekat dengan seseorang membuatnya tak bisa menjaga martabat sebagai seorang wanita. Jika lelaki itu datang istriku begitu mesra menyambutnya. Sampai tetangga sebelahku mengatakan muak melihat kelakuan istriku. Dia bilang bahwa istriku seperti anjing yang melonjak-lonjak menyambut majikannya jika melihat lelaki itu datang ke rumah. Sebuah penghinaan yang luar biasa menyakitkan bagiku. Namun istriku tak pernah mau mendengar kata-kataku. Dia selalu membantah dan tetap menganggap dirinya suci. Dia selalu berpikir bahwa aku ini bodoh sehingga sikap mengalahku dianggap karena aku benar-benar percaya pada mulut manisnya. Sebenarnya aku mengalah dan kelihatan lemah karena besarnya cintaku padanya. Walaupun pada akhirnya aku tak berdaya menyelamatkan keluargaku dari badai kehancuran, sebenarnya aku sudah berjuang maksimal. Wanita jika sudah mengagungkan materi dan puas menikmati sentuhan lelaki yang bukan suaminya pasti akan membawa kehancuran bagi keluarganya. Tiang rumah tangga itu kokoh tidaknya sangat bergantung pada sang istri. Jika seorang suami yang selingkuh, mungkin keluarga masih bisa dipertahankan. Namun jika yang selingkuh seorang istri sangat mustahil bisa dipertahankan.

          Dengan kelebihan materi yang dimiliki, lelaki hidung belang yang telah menjadi duri dalam kehidupanku itu menyeret istriku ke lembah dosa semakin dalam. Aku tersentak ketika menemukan beberapa keping CD porno di almari istriku. Dia mengakui bahwa CD porno itu memang pemberian lelaki itu. Pada saat aku mengajar di sekolah, lelaki itu sering datang dan memanfaatkan kesempatan. Berkali-kali aku memergokinya. Hati setiap suami pasti akan terbakar bila istrinya selingkuh. Sakit hati yang terluka karena penghianatan cinta tak bisa diobati selamanya.

Kebahagiaan yang kami rasakan selama sepuluh tahun hancur lebur. Monica Anggraeni, istriku, yang dahulu  seorang gadis desa sederhana telah berubah drastis.  Ibaratnya bunga, istriku yang dahulu bagaikan sekuntum anggrek yang indah sekarang telah berubah menjadi mawar hitam berduri tajam.  Duri-durinya yang tajam telah melukaiku. Duri-durinya yang tajam tidak hanya merobek kulitku, tetapi juga menyebarkan racun yang ganas dalam jantungku. Kini racun itu telah menyebar ke sekujur tubuhku dan mengendap di dasar hati yang paling dalam. Hatiku saat ini telah tercabik-cabik. Namun istriku tak peduli dengan segala yang telah dilakukan terhadapku. Dia hanya peduli pada dirinya sendiri dan tenggelam dalam mimpi yang telah membutakan hatinya. Sementara aku hanya bisa tertegun memandangnya terbang tinggi mengejar mimpi. Dalam hatiku berkata;”Sadarlah istriku, kamu bisa jatuh ke dasar samudera penyesalan yang paling dalam. Tak seorangpun yang bisa menyelamatkanmu.”

Paras cantik dan bodi seksi membuatnya lebih cepat mengejar impiannya sebagai selebritis lokal. Sikap ramah dengan sedikit senyuman nakalnya dengan mudah memikat setiap lelaki. Apalagi setelah diam-diam dia mengenal dunia pedukunan dan menggunakan susuk pemikat. Dia semakin mudah menarik perhatian setiap orang. Kemampuannya menjalin relasi dengan berbagai kalangan membuka peluang untuk mengembangkan sayap. Talentanya sebagai seorang penyanyi Campursari berkembang pesat. Di daerah Ngawi, jenis musik Campursari memang sangat merakyat, walaupun seni ini bukan khas Ngawi, melainkan lahir dari Gunungkidul Yogyakarta. Pesta rakyat sekecil apapun di sekitar hutan jati Ngawi pasti dimeriahkan dengan hiburan Campursari. Maka undangan manggung istrikupun berdatangan. Uang pun mengalir ke rekening pribadinya. Seharusnya aku bangga dan bahagia, tapi tidak demikian yang kurasakan.

Orang mengira aku adalah seorang suami yang sangat beruntung. Bagaimana tidak? Memiliki istri cantik yang  dipuja banyak orang dan menjadi tambang emas untuk mendapatkan uang. Namun sesungguhnya aku adalah  seorang suami yang sangat menderita. Hidupku bagai terpanggang di atas bara api neraka. Aku tak sanggup memenuhi tuntutan hidup istriku yang royal. Gaya hidupnya setelah menjadi penyanyi Campursari penuh glamour ala selebritis ibu kota. Pergaulan bebas  telah menyeretnya ke dalam lumpur dosa. Panggung  keartisan telah menorehkan sejarah hitam dalam kehidupan rumah tangga kami. Sejak saat itulah aku mulai benci pada hiburan Campursari. Hiburan ini sering bersinggungan dengan maksiat. Banyak diantara mereka yang terjerumus dalam perselingkuhan atau mabuk minuman keras. Buktinya dari teman-temannya terhitung telah enam orang yang kuketahui rumah tangganya hancur karena perselingkuhan. Semua hancur karena pergaulan bebas sebagai artis kampungan yang terlalu narcis. Mereka mengejar mimpi hingga rela mengorbankan harga diri. Sebelum benar-benar hancur bahtera rumah tanggaku, aku berusaha menghentikan mimpi istriku.

Sore itu kami duduk berdua ingin menikmati kebersamaan, karena kesempatan seperti ini semakin sulit setelah istriku sibuk menjadi penyanyi campur sari. Sambil memandang wajah cantik istriku, kuteguk kopi yang hangat merangsang. Ini adalah kesempatan indah untuk mengajaknya berbicara. Demi keutuhan rumah tangga aku memintanya untuk berhenti menjadi penyanyi campursari

“Istriku, aku ingin memiliki keluarga kecil yang harmonis.”

“Maksudmu apa Pak?”

“Berhentilah menjadi penyanyi campursari. Aku tak senang dengan hiburan yang tidak sehat. Berapa banyak mereka yang hancur karena tak tahan godaan. Kamu akan makin tenggelam diantara uang, minuman dan perselingkuhan jika tak segera berhenti.”

“Kamu ternyata picik Pak! Aku tak mungkin berhenti.”

“Apa kamu akan mengorbankan keluarga demi mereka?”

“Aku lebih nyaman bersama mereka.”

“Istri macam apa kamu ini?”

“Suami tak pantas dihargai!” Dia membentakku dan berdiri sambil menyambar kopi panas di depanku. Bagai disambar petir rasanya, saat secangkir kopi panas itu dilemparkan dan mengenai wajahku. Dalam hatiku mengutuk spontan walaupun tak terucap. Harga diriku sebagai seorang suami telah hancur sejak saat itu. Hatiku menjerit karena sebagai seorang lelaki merasa tak bermartabat lagi di mata istri. Namun demi cinta dan kesetiaan yang telah kami ucapkan, aku berusaha menahan sakit yang tak terperi ini.   

Nasibku sebagai seorang pengarang amatir nyaris sama dengan ayam petelur. Selagi masih bertelur diberi makan banyak, tapi bila sudah tidak bertelur dipotonglah dan mati. Pada saat honorku banyak aku diperlakukan sebagaimana layaknya seorang suami. Tapi pada saat tak menghasilkan uang, perlakuan istriku sangat tidak layak. Jangankan menyiapkan sarapan pagi atau secangkir kopi, tegur sapapun sinis dan menyakitkan. Dia tidak lagi menghargai aku sebagai seorang suami. Istriku benar-benar mengingkari janji pernikahan yang pernah kami ucapkan bersama di hadapan Imam dan para saksi. Dahulu kami berjanji untuk saling setia baik dalam suka maupun duka. Mulut manis yang dahulu senantiasa mengucapkan kalimat yang menyejukkan hati sekarang senantiasa menyemburkan bisa.

“Mana tanggung jawabmu sebagai suami? Kerjamu hanya mengkhayal. Hentikan khayalanmu untuk jadi pengarang ternama. Kamu harus cari kerja yang menghasilkan uang banyak. Kebutuhan kita banyak. Anak kita tidak akan kenyang hanya dengan cerita-cerita bohongmu. Sementara gajimu untuk beli bedak dan lipstick saja tidak cukup. Suami macam apa kau ini?” Umpatan istriku sangat menghunjam hati. Tapi aku berusaha sabar agar tidak terjadi pertengkaran. Aku diam menahan sakit dalam dada. Sangat sakit, sebab harga diriku sebagai seorang suami telah diinjak-injak. Sementara istriku terus mengomel.

“Pak, kamu dengar tidak kata-kataku? Diajak ngomong seperti orang tuli saja.”

“Aku sedang berpikir” jawabku pelan.

“Berpikir? Orang hidup tidak cukup hanya dengan berpikir. Yang penting kerja dan dapat uang.”

“Kamu terlalu materialistis. Setiap kali bicara selalu uang.”

“Lalu apa lagi yang sedang kamu pikirkan kalau bukan uang?”

“Keluarga kita.”

“Keluarga kita?” Dia menatapku sinis penuh ejekan.

“Ya, aku selalu berpikir bagaimana caranya menciptakan keluarga kecil yang harmonis. Sebuah keluarga ideal yang saling cinta dan menghargai baik dalam suka maupun duka. Tapi...” kalimat yang ingin kuucapkan terpotong oleh sikap congkak istriku.

“Tapi apa? Tak usah ceramahi aku.” Matanya memandang jalang. Hati kecilku menghiba dan bertanya. Kemana kasih dan kelembutan istriku? Namun dia tak akan mendengar jeritan hatiku. Hatinya benar-benar telah membatu. Untuk menghindari pertengkaran yang berkepanjangan aku beranjak dari tempat duduk dan berusaha menutup telinga. Namun omelan istriku masih saja terdengar mengganggu. Terpaksa aku keluar rumah untuk mencari udara yang lebih segar. Aku duduk di bawah pohon mangga belakang rumah.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung