SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 17
Administrator 10 Januari 2020 10:21:35 WIB
Aku berdiri dengan kedua mata terasa pedih. Rasa pusing tiba-tiba menghunjam ubun-ubun kepalaku. Sedetik kemudian dadaku terasa sakit dan sulit bernapas. Kusandarkan tubuhku pada tembok dingin kamar mandi. Mataku tak bisa melihat dengan jelas. Tanganku mencoba meraih pintu, namun tak sampai. Aku terjatuh ke lantai.
“Putri...” panggilku sambil menahan rasa sakit. Suaraku cukup keras sehingga mengagetkan Putri.
“Ayah...! Tolong....! Ayah sakit....” Teriakan Putri membuat beberapa tetangga berdatangan. Aku mendengar suara mereka, namun tak bisa melihat dengan jelas. Saat digotong dari kamar mandi sebenarnya aku masih sadar, tapi pandangan mataku kabur.
“Obat ayah Putri.” Aku minta obat untuk mengurangi rasa sakit. Obat dari dokter Jimy itu biasanya manjur. Walaupun agak pahit, obat cepat kutelan.
“Minum lagi Yah.”
“Sudah cukup.”
“Ayah semalam nggak tidur, makanya sakit.”
“Sebentar lagi sembuh.”
“Kami antar ke dokter Pak?” suara salah seorang tetanggaku.
“Nggak usah Pak. Sebentar lagi sembuh. Maaf, merepotkan. Terima kasih semuanya.”
“Pak Setiawan tak perlu sungkan. Kami siap membantu.” Suara pak RT terdengar jelas. Beliau memegang tanganku.
“Apa yang Pak Setiawan rasakan?”
“Kepala saya pusing, kemudian dada saya sakit dan sulit bernapas.”
“Ibu apa nggak ada?” Tanya pak RT lagi. Bagaimana aku harus menjawabnya. Tak mungkin aku membohongi tetanggaku, sebab sesungguhnya mereka telah tahu tentang rahasia keluargaku. Hatiku semakin tercabik-cabik ketika Putri mendekapku dan menangis dengan keras. Dia tak sanggup menahan rasa malu dan kecewa bila ada orang bertanya tentang ibunya. Putri merasa, pertanyaan mereka hanya ingin memperolok kelakuan ibunya yang dianggap tak pantas. Bahkan dia pernah menagis di sekolah karena dikatakan anak pelacur oleh temannya. Putri sempat kupindahkan sekolahnya untuk menghindari ejekan teman-temannya. Kupikir dengan pindah sekolah beban psikologis anakku akan berkurang.
Waktu terasa berjalan begitu lambat. Kegelapan berangsur sirna. Sinar mentari menerobos masuk melalui celah jendela yang belum sempat kubuka. Aku terlambat bangun pagi itu. Kulihat Putri sudah siap dengan seragam sekolahnya.
“Kenapa nggak bangunkan ayah?” tanyaku pada Putri yang berdiri di depan pintu.
“Kasihan, sebab biasanya ayah tak bisa tidur nyenyak.”
“Maaf ya, ayah mandi dulu. Sambil nunggu ayah mandi kamu bisa beli nasi untuk sarapan.”
“Nggak usah ayah. Nanti beli di sekolah saja.”
Usai mandi aku buru-buru berangkat. Biasanya di meja kerjaku selalu tersedia secangkir kopi walaupun tinggal sisa semalam. Aku melihat meja kerjaku, namun di atas meja itu tak ada secangkir kopi yang kucari. Putri hafal kebiasaanku minum kopi sebelum berangkat. Matanya memandangku polos seolah merasa bersalah. Biasanya dia menyiapkan kopi untukku.
“Maaf ayah, kopinya habis.”
“Tak apa Putri. Ayah sebenarnya dilarang minum kopi.” Aku memang dianjurkan untuk berhenti minum kopi oleh dokter. Tapi jika harus berhenti minum kopi untuk apa lagi aku bertahan hidup. Selama ini kopi menjadi sahabat sejati dalam perjuangan hidupku. Pagi itu aku tak minum kopi bukan karena taat pada anjuran dokter, tapi karena terpaksa. Persediaan kopi di rumahku telah habis.
Rasanya hidup yang kujalani terasa semakin berat. Kondisi kesehatanku dari hari ke hari semakin memburuk. Rasa pusing dan nyeri di dada semakin sering menyiksaku. Menurut pendapat teman-teman di kantor tubuhku semakin hari semakin kurus. Aku tak mau ambil pusing dengan komentar mereka. Biarlah hidupku mengalir secara alami. Ibaratnya aku ini hanya wayang yang tak bisa menolak kemauan Sang Dalang. Jika boleh memilih sesungguhnya aku tak mau memainkan peran sebagai tokoh dalam lakon ini. Tapi apa boleh buat, kisah yang mengiris hati ini tetap harus kumainkan.
Aku meniti hari-hari bersama Putri Kinasih, anakku. Walaupun hidup ini penuh luka, kami berusaha mencari makna kata bahagia yang didambakan setiap orang. Orang bijak bilang; “Bahagia itu tak bisa dipisahkan dari rasa iklas. Hanya orang-orang yang penuh rasa iklas yang bisa menikmati kebahagiaan. Maka seharusnya kita harus bisa memberi dan menerima apapun dengan iklas. Termasuk iklas menerima suratan hidup kita.” Sepintas sederhana saja ungkapan orang bijak yang pernah kubaca tadi. Namun bagiku, lebih mudah memahami hukum kekekalan energi dalam ilmu Fisika atau hukum pitagoras dalam Matematika daripada menghayati kata iklas itu dalam kehidupan nyata. Jangankan untuk iklas, untuk sabar saja masih sulit. Kalau sabar itu bisa dilatih melalui proses pembiasaan. Berusaha menahan emosi tapi tetap masih merasakan sakit. Jika sudah mampu menahan emosi tanpa rasa sakit, itulah iklas. Bagaimana manusia bisa iklas jika egoisme masih menguasai hidupnya. Aku belum bisa menemukan bagaimana caranya membuka hati agar tangan Tuhan yang mengubah hidupku menjadi orang yang iklas dan penuh syukur. Bagiku rahasia hidup itu adalah rahasia Tuhan.
Dadaku terus berdesir. Rasanya ada kekhawatiran besar dalam diriku. Apakah yang akan terjadi pada keluargaku? Jika ini pertanda buruk, semoga tidak menimpa anakku. Sore itu gerimis turun disertai kilat menyambar-nyambar. Sesekali terdengar suara petir menggelegar. Kupeluk Putri Kinasih, anakku, yang ketakutan.
“Putri takut?”
“Ibu dimana ayah?”
“Kamu kangen?”
“Aku berharap ibu pulang malam ini.”
“Ayah juga berharap begitu, Putri.” Jeritan hatiku meledak-ledak. Baru kali ini aku tak sanggup menyembunyikan air mata di depan anakku. Aku benar-benar sampai pada batas tidak tahu dan tidak mampu harus berbuat apa. Ketegaranku sebagai seorang ayah yang harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi putrinya, benar-benar luluh lantak saat itu. Apalagi ketika Putri mengusap air mataku yang meleleh di pipi, rasa pedih ini makin tak terperi.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1446 H
- LIBUR DAN CUTI BERSAMA PEMERINTAH KALURAHAN PETIR
- PENGAJIAN RUTIN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH
- SAFARI TARAWIH TIM KAPANEWON RONGKOP DI PADUKUHAN NGURAK URAK
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN WERU
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN DADAPAN
- PENGAJIAN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH