SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 18
Administrator 24 Januari 2020 12:30:30 WIB
Suara dering telepon membuat kami tersentak. Putri melompat dan menyambar telepon. Dia tampak sangat panik.
“Ada apa?” tanyaku tak sabar.
“Ibu di rumah sakit. Kita harus berangkat sekarang Yah.” Desak Putri tak bisa kutolak. Tanpa pikir panjang kami berangkat menembus rintik hujan. Walaupun memakai jas hujan aku tetap basah. Di depan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit Widodo itu masih ada beberapa orang bergerombol mambicarakan korban kecelakaan. Dari percakapan mereka aku mendengar nama Anggraeni “Ratu Café Narsis” disebut-sebut. Sontak jantungku berdegup kencang. Aku dan Putri berlari memasuki ruang IGD untuk memastikan apakah korban kecelakaan itu benar-benar istriku. Kami menyeruak masuk, namun beberapa petugas medis mencegahku.
“Tunggu di luar saja.”
“Saya keluarganya.” Protesku agar bisa melihat lebih dekat. Sementara Putri terlepas dari pegangan tanganku. Dia menarik tangan seorang perawat dan memeluk perempuan yang terbaring penuh darah. Anakku yakin bahwa korban kecelakaan itu adalah ibunya.
“Jangan tinggalkan Putri ibu....” tangis anakku menyayat hati. Seorang perawat cantik memeluk anakku dan mencoba menghentikan tangisnya.
“Ibumu hanya pingsan. Sebentar lagi siuman.”
“Selamatkan ibu saya.” Pintanya tulus.
“Tidak usah khawatir. Keluargamu mana?” Tanya perawat itu.
“Saya suaminya.” Jawabku membuatnya seolah tak percaya.
“Lho Pak Setiawan?” Perawat itu terkejut saat menatapku.
“Bagaimana istri saya?” tanyaku dengan harapan mendapat jawaban yang menyenangkan.
“Untuk memastikan cedera yang dialami kita harus melihat hasil rontgen dulu.”
Aku memasuki ruang rontgen dengan hati cemas. Seorang petugas mempersilahkan aku menunggu di luar. Tiba-tiba dua petugas polisi menghampiriku. Saat itu aku masih termangu menunggu hasil rontgen istriku.
“Kami dari kepolisian ingin klarifikasi.”
“Silahkan Pak.”
“Status Bapak dengan korban ini apa?” Tanya seorang polisi dengan memegang tinta dan buku kecil.
“Saya suaminya.”
“Bisa menceritakan sedikit tentang peristiwanya.”
“Saya tidak tahu.”
“Yang membawa ke rumah sakit siapa?”
“Tidak tahu. Saya mendapat telpon dari rumah sakit.” Sebenarnya aku tahu bahwa yang membawa ke rumah sakit, lelaki yang sedang dekat dengan istriku. Saat terjadi kecelakaan di depan mesjid agung sebelah barat alun-alun, lelaki itu sudah menunggunya di pojok alun-alun. Diam-diam istriku memiliki hubungan khusus dengan lelaki itu. Dia berpikir aku terlalu bodoh untuk dikhianati. Perasaan marah masih membara di dada ketika polisi itu mendesakku lagi dengan pertanyaan tentang istriku.
“Jadi korban tidak berboncengan dengan Bapak?”
“Tidak.”
“Bapak tahu dengan siapa ibu berboncengan?”
“Tidak.” Aku memang tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri tentang peristiwa ini. Tapi hatiku semakin gundah dengan beberapa pertanyaan polisi tadi. Secara tidak langsung aku bisa menyimpulkan bahwa istriku pergi bersama lelaki lain. Cemburu dan sakit hati tak bisa kusembunyikan.
Hasil cek medis mengharuskan istriku menjalani rawat inap untuk beberapa hari. Yang menimbulkan tanda tanya bagiku, kenapa harus ada pihak kepolisian yang menjaga ruang rawat istriku. Apakah setiap korban kecelakaan mendapat perlakuan seperti ini? Kurasa tidak! Sejuta pertanyaan menggunung dalam benakku. Melihat kegelisahanku, seorang polisi mendekatiku dan berbisik lirih.
“Maaf kalau membuat Bapak tidak nyaman. Kami hanya menjalankan tugas.”
“Tidak apa-apa kalau memang harus begitu.” Aku tidak tahu harus berkata apa. Polisi itu mengatakan akan menunggu sampai istriku siuman. Mereka butuh informasi penting dari istriku. Kata mereka lelaki yang berboncengan bersamanya kabur.
Segudang tanda tanya semakin memenuhi pikiranku. Siapa sesungguhnya lelaki itu? Aku tersentak ketika mendengar suara Putri.
“Bagaimana ibu?”
“Tidak usah khawatir, ibu tidak apa-apa.”
“Ayah tidak tidur?”
“Ayah tak bisa tidur.”
“Nanti ayah sakit lagi?” Suara anakku bernada penuh kekhawatiran. Bila terlalu lelah dan kurang tidur, biasanya memang aku sakit. Tapi kali ini aku harus kuat.
“Tidak! Ayah sudah minum obat.”
“Saya juga sulit tidur yah. Nyamuknya banyak.”
“Ayah cari obat nyamuk di depan ya?”
“Saya ikut.”
Melihat anakku yang malang, polisi di sebelahku merasa kasihan.
“Anaknya biar tidur di rumah saja Pak. Kasihan.”
“Di rumah tak ada yang menjaga Pak.”
“Keluarga dekat?”
“Lebih baik di sini Pak” Putri kugandeng menyusuri lorong rumah sakit. Sampai di depan gerbang rumah sakit Widodo, langkahku terhenti karena mendengar suara memanggilku.
“Pak Setiawan...”
“Saya Pak..?” tanyaku.
“Ibu sudah siuman. Bapak cepat ke sana.”
Tanpa berpikir panjang aku berlari. Putri tak mau ketinggalan.
“Cepat Yah.” Putri menarik tanganku dan memintaku agar berlari lebih cepat.
Istriku sudah siuman tapi belum bisa bicara. Putri memeluknya.
“Ibu...” suara Putri memecah keheningan. Namun tak ada jawaban dari mulut ibunya.
“Sebentar ya dik. Biar ibu istirahat dulu.” Seorang perawat memegang pundak Putri yang masih memeluk ibunya.
“Kenapa ibu diam saja, suster?”
“Sabar ya.”
Sementara aku hanya berdiri mematung. Walaupun hatiku remuk redam tapi bukan berarti aku harus menyerah. Dalam diam aku berdo’a semoga istriku diselamatkan. Aku yakin, Tuhan mendengarkan do’a orang yang remuk redam hatinya.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1446 H
- LIBUR DAN CUTI BERSAMA PEMERINTAH KALURAHAN PETIR
- PENGAJIAN RUTIN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH
- SAFARI TARAWIH TIM KAPANEWON RONGKOP DI PADUKUHAN NGURAK URAK
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN WERU
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN DADAPAN
- PENGAJIAN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH