SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 19

Administrator 07 Februari 2020 16:04:54 WIB

Malam itu istriku siuman. Saat mulutnya mulai bicara, aku berharap dia akan memanggilku atau Putri yang sangat mencemaskan kondisinya. Rasanya wajar jika kami berharap demikian, karena kami adalah keluarganya. Kami adalah suami dan anak, yang mencintainya sepenuh hati. Namun kenyataan terlalu pahit. Orang yang dicari ternyata bukan kami, melainkan Boy. Sakit hati karena terbakar api cemburu membuatku seolah ingin membunuhnya. Betapa tidak sakit hati dan cemburu, kalau aku tahu bahwa istriku main gila dengan Boy yang disinyalir sebagai pengedar sabu-sabu di Café itu. Sekarang pertanyaanku terjawab. Polisi itu mengawasi istriku dengan serius pasti ada kaitannya dengan kaburnya Boy. “Tuhan, kuatkan hambaMu..” hatiku menjerit dalam diam.

“Dia memanggil Bapak?” Tanya seorang polisi berpura-pura. Aku yakin dia tahu namaku bukan Boy, sebab di depan ruang rontgen tadi dia telah tahu siapa namaku. Bahkan dia mengatakan perlu klarifikasi tentang kaburnya seseorang yang berboncengan dengan istriku. Sekarang  aku yakin, lelaki yang dicari polisi itu adalah Boy. Jika keyakinanku benar, betapa nistanya istriku. Selama ini dia tidak setia pada suami, dan sekarang terlibat dengan urusan barang haram yang bernama ‘sabu-sabu’. Pikiranku kacau luar biasa hingga pertanyaan  polisi tadi tidak kutanggapi. Namun dia memaksaku bicara.

“Bapak yang bernama Boy?” Tanya polisi yang lain dengan nada tidak sopan. Sikapnya yang arogan memancing emosiku, tapi aku berusaha menghindari keributan. Otakku masih waras, dan aku tahu bahwa di sini bukan tempat yang cocok untuk bertengkar dengan oknum polisi.

“Bapak ini Boy apa bukan?” nadanya lebih tinggi seperti membentak seorang pesakitan.

“Mau pak polisi ini apa sih? Pakai etika dong!” Emosiku mulai sulit kukontrol.

“Saya menjalankan tugas Pak. Ini prosedur yang harus kami jalankan.” Polisi muda itu membela diri dengan dalih menjalankan tugas.

“Saya bukan Boy dan saya tidak peduli dengan tugas Bapak. Lebih baik jangan ganggu saya.”

“Maaf, ini hanya salah paham Pak.” Polisi yang lebih senior berusaha menengahi ketegangan yang hampir memuncak.

Tanpa berpikir panjang aku minta bantuan adikku untuk menghindari konflik lebih tajam dengan polisi yang membuatku jengkel.

“Hallo Dik Fredi.... Ini Mas Setiawan.” Aku menelpon dengan buru-buru.

“Ada apa Mas?”

“Tolong ke rumah sakit sekarang. Aku di ruang Mawar nomer 13.”

“Siapa yang sakit?” tanyanya bernada cemas.

“Pokoknya datang sekarang.” Telepon kututup karena aku yakin adikku akan segera datang.

“Om Fredi Yah...?” Tanya anakku.

“Ya.” Jawabku singkat. Kuraih tangan Putri dan kurengkuh dalam pangkuanku. Ada perasaan pedih yang  menghunjam hati.

Rintik hujan menambah kepedihan hati. Menunggu kedatangan adikku yang belum ada setengah jam saja terasa lebih dari sepuluh jam. Ketika melihat kedatangan orang yang sangat kutunggu rasanya aku ingin melonjak. Kedua polisi itupun tak kalah terkejutnya ketika melihat kehadiran adikku. Mereka berdiri dan memberi hormat.

“Selamat malam Pak.”

“Malam.” Dengan gayanya yang dingin Fredi melangkah ke arahku.

“Siapa yang sakit Mas?”

“Istriku kecelakaan”

“Bagaimana kondisinya?”

“Sudah siuman. Tapi ada masalah.”

“Jangan pikirkan biaya. Yang penting ditangani dengan cepat.”

“Bukan biaya. Tapi tolong jangan ganggu aku!”

“Maksud Mas apa?”

“Anak buahmu ini sangat mengganggu. Mereka perlakukan aku seperti penjahat saja. Apa ini memang prosedur polisi?” tanyaku bernada protes. Mendengar pengaduanku, dua polisi itu tampak gelisah.

“Maaf Mas. Sebenarnya ada apa?”

“Tanyakan pada mereka?” Aku menatap tajam polisi di depanku yang telah membuatku marah. Sikap oknum polisi yang tidak simpati inilah yang bisa merusak citra polisi.

Adikku sebagai orang nomer satu di polres kota ini juga menatap tajam dua oknum polisi di depannya.  Dua polisi itu diam seolah siap menerima hukuman.

“Segera menghadap saya ke kantor!” Perintah adikku pada anak buahnya yang telah melanggar etika.

“Siap.” Mereka pergi setelah memberi hormat. Sementara aku berusaha menenangkan perasaan yang gundah.

“Maafkan mereka Mas. Mereka hanya menjalankan tugas.”

“Aku tidak peduli, karena aku bukan penjahat.”

“Saya akan usut masalah ini Mas.” Dia melangkah mendekati istriku yang tergolek di pembaringan. Setelah melihat keadaan istriku beberapa saat, dia berpamitan meninggalkan kami. Mungkin dia langsung  ke kantor, walaupun di luar jam dinas. Sebenarnya aku tidak bermaksud memanfaatkan jabatan adikku.

Aku rela istriku dipenjara, asal terbukti bersalah. Tapi jika baru dianggap terlibat dalam jaringan narkoba, aku tak mau diperlakukan tidak wajar. Pergulatan batinku makin dahsyat. Aku sampai lupa bahwa anakku tertidur dalam pelukanku. Saat dia terbangun dan menanyakan ibunya aku tersentak.

“Ibu sudah bangun Yah?”

“Belum. Kamu tidur lagi ya?”

“Jam berapa sekarang?”

“Sebentar lagi subuh.”

“Ayah tidak tidur?”

“Tidak. Ayah tak bisa tidur.”

“Nanti ayah sakit.”

“Jangan cemaskan ayah.”

“Kalau ayah sakit, siapa yang menjaga ibu?”

“Kita akan menjaga dan merawatnya bersama. Tuhan pasti menolong kita.”

“Amin.”

Satu minggu di rumah sakit rasanya bagai setahun. Walaupun belum sehat istriku sudah diijinkan pulang. Aku dan Putri akan merawatnya di rumah. Beberapa hari itu aku tidak ke kantor. Putri juga tidak bisa sekolah. Aku sibuk mengurus segala keperluan. Segalanya harus kukerjakan sendiri. Aku berusaha mencurahkan cintaku sehabis-habisnya demi istriku tercinta. Rasa sakit dalam hati karena telah dikhianati tak mengurangi ketulusan cintaku padanya.

Sekarang aku dan Putri Kinasih menjadi super sibuk. Sebelum berangkat ke kantor aku harus menyiapkan sarapan, merawat istriku yang sakit dan segudang kegiatan rutin lainnya. Akibatnya aku sering terlambat. Pekerjaan di kantor menjadi berantakan. Bahkan gara-gara kinerjaku yang menurun, aku mendapat teguran keras dan nyaris kehilangan pekerjaan.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung