SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 20

Administrator 14 Februari 2020 11:35:40 WIB

“Pak Setiawan bisa ke ruang saya sekarang?” suara lembut Bu Dewi membuatku gundah. Aku merasa bersalah karena telah menyadari bahwa kinerjaku memburuk. Apapun yang terjadi aku harus iklas menerima keputusan pimpinan.

“Kita harus bicara Pak.” Bu Dewi memulai pembicaraan setelah melihatku duduk terpaku di depannya.

“Pak Setiawan mungkin sudah tahu apa yang akan kita bicarakan.”

“Tentang apa Bu?” tanyaku seperti orang bodoh.

“Akhir-akhir ini kinerja Pak setiawan sangat buruk. Bahkan sering mbolos tanpa alasan yang jelas. Kalau sudah bosan kerja di sini lebih baik Pak Setiawan mengajukan pengunduran diri. Atau ingin diberhentikan dengan tidak hormat?” Mendengar ucapan Bu Dewi dadaku berdesir.

“Maafkan saya Bu. Saya mohon kemurahan hati Ibu.”

“Sebenarnya apa yang terjadi? Saya heran dengan perubahan pada diri Pak Setiawan.”

“Masalah keluarga Bu. Istri saya....” belum selesai aku bicara Bu Dewi telah membentakku.

“Jangan bawa persoalan keluarga ke kantor. Saya tidak mau tahu.”

 “Baik Bu. Sekali lagi saya minta maaf.” Aku meninggalkan ruang Bu Dewi dengan perasaan tidak menentu. Ada rasa malu dan sekaligus takut kehilangan pekerjaanku sebagai guru. Apalagi nasib guru mulai membaik dengan adanya tunjangan profesi. Aku berharap tunjangan profesi bisa membuat keluargaku lebih sejahtera.

Aku tak bisa melupakan peringatan Bu Dewi yang bernada mengancam. Kemarahan Bu Dewi mengingatkan aku pada ibu angkatku. Sejak kecil aku merasa tak berdaya bila menghadapi kemarahan seorang ibu. Pada masa kecil aku sering mendapat perlakuan kejam dari ibu angkatku. Aku sering dicaci maki dan dipukuli sapu lidi. Bila kami bertengkar, pastilah aku yang mendapat hukuman. Sebenarnya kami tiga bersaudara di keluarga itu. Namaku Setiawan sedangkan saudara angkatku bernama Fredi dan Heni. Fredi merupakan anak kesayangan ibu. Walaupun Fredi sering berbuat curang dalam permainan, namun ibu selalu membelanya. Perlakuan ibu yang tidak adil membuat kami merasa iri pada Fredi.

Banyak kenangan yang tak bisa kami lupakan. Terutama kenangan pahit yang masih sangat membekas. Pada suatu senja aku dan Fredi bertengkar gara-gara berebut kelereng. Tanpa sengaja Fredi terjatuh ke dalam selokan. Bibirnya berdarah terkena benturan. Aku bermaksud menolongnya, tapi dia salah paham dan memukul wajahku. Bahkan wajahku diludahi, namun aku tak melawan. Heni yang melihat hal itu berusaha melerai. Namun malang nasibnya. Wajahnya yang cantik justru dilempar segenggan pasir oleh Fredi. Heni menangis dan memanggil-manggil ibu untuk mencari pembelaan. Sementara aku berusaha membersihkan wajah Heni yang kotor dan meredakan tangisnya.

“Fredi jahat. Aku benci!” suaranya penuh dendam.

“Aku juga membencinya.”

Heni masih terisak-isak dalam dekapanku ketika ibu datang menghampiri. Aku tak menyangka ibu akan marah padaku. Telingaku dijewer hingga rasanya hampir putus. Pantat dan punggungku menerima cambukan sapu lidi bertubi-tubi. Pedih dan perih terasa menghunjam ke dasar jiwa.

“Ini hukumannya bagi anak nakal.” Ibu terus menjewer telingaku sambil memukuli pantatku. Seiring dengan cambukan yang tak henti-hentinya mendera tubuhku, sumpah serapah dan caci maki terus mengutukku.

“Sakit Bu...” tangisku memohon belas kasihan.

“Diam!” Ibu tak peduli mendengar ritihanku. Dia terus mencambukku. Sungguh sakit tubuh dan hatiku. Melihat perlakuan itu, Heni tak sampai hati. Dia berlari memelukku. Dan tanpa sengaja sebuah cambukan mengenai lengannya. Dia menjerit kesakitan.

“Ibu jahat!” Heni menatap ibu penuh kebencian. Melihat mata Heni memancarkan sinar kebencian, mendadak ibu berubah ekspresi. Sapu lidi di tangannya cepat dibuang ke bawah pohon cemara. Kedua tangannya diulurkan ke arah Heni.

“Maafkan ibu sayang. Ibu tak sengaja.”

“Ibu tidak sayang Heni.”

“Ibu sayang Heni. Maafkan ibu sayang.” Pintanya tulus. Tangannya mendekap tubuh Heni dan membelai rambutnya.

“Kau diapakan Mas Setiawan?” pertanyaan ibu sungguh tidak bijaksana dan memojokkan aku.

“Bukan Mas Setiawan yang jahat, tapi Mas Fredi.” Heni berkata jujur, tapi dianggap angin lalu. Begitulah sikap orang tua yang tidak bijaksana. Aku semakin pedih menerima kenyataan sebagai anak pungut.

“Tak usah main lagi.” Ibu menggendong Heni pergi tanpa pedulikan aku. Sunguh menyakitkan. Peristiwa itu menggoreskan luka dalam hatiku.

Jam lima sore aku belum berani masuk rumah. Baju dan celanaku masih kotor karena sejak siang belum mandi. Aku berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi ketika ayah datang. Tapi langkahku mendadak terhenti. Kudengar ibu marah-marah pada ayah yang baru  datang.

“Kapan Bapak punya waktu untuk keluarga?”

“Ada apa? Orang baru datang sudah disambut omelan”

“Lihat anak kita, Fredi!”

“Kenapa?”

“Bertengkar dengan anak haram itu. Bapak harus menghukum anak itu.”

“Namanya anak. Bertengkar itu  biasa. Jangan berlebihan!”

“Jangan dibela terus anak seperti dia! Nanti besar kepala. Mulai sekarang Bapak urusi dia.”

“Dimana dia sekarang?”

“Cari sendiri! Mungkin sudah minggat.”

Mendengar langkah kaki ayah, aku cepat bersembunyi di gudang. Dengan sangat hati-hati aku pergi meninggalkan rumah. Aku tak mau menimbulkan pertengkaran dalam keluarga angkatku.

Ayah angkatku pasti sangat cemas. Aku tahu bahwa ayah angkatku sangat menyangi kami. Tak membedakan kami bertiga sebagai anak kandung dan anak angkat. Malam itu dia mengajak beberapa orang untuk mencariku, namun tak berhasil menemukan persembunyianku. Sebenarnya aku melihat dan mendengar saat mereka memanggil-manggil namaku.

Semalaman aku tak bisa tidur. Terlalu berat beban yang harus kutanggung. Di tengah kegelapan aku berjalan tanpa kepastian. Kuikuti saja kemana kakiku melangkah. Tanpa terasa mentari pagi telah memancarkan sinarnya. Aku terus berjalan dengan diiringi jeritan hati. Tiba-tiba aku terkejut. Sebuah sedan berhenti mendadak, dan kudengar suara khas Heni memanggilku.

“Mas Setiawan....” Heni berlari ke arahku, namun aku berusaha pergi sejauh mungkin. Aku berlari bagai angin. Tapi malang nasibku. Sebuah sepeda motor yang melaju cukup kencang menabrakku. Aku terkapar dan tak ingat lagi.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung