SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 22
Administrator 17 April 2020 15:02:49 WIB
Aku menjalani hari-hariku dengan memanggul salib kehidupan yang begitu berat. Walaupun peristiwa menyakitkan itu sudah terjadi cukup lama aku belum bisa melupakannya. Dendam dan sakit hati telah merampas seluruh akal sehatku. Aku terjerat oleh prasangka buruk. Berbagai tindakan jahat yang dilakukan istriku kelihatannya memang disengaja untuk menghancurkan hidupku. Berulangkali dia melukai hatiku. Belum sembuh luka lama dalam hatiku, kini dia telah menggoreskan luka baru lagi di atas luka lama. Perbuatan istriku sungguh kejam dan menyakitkan. Ketika aku mendengar berita bahwa istriku tertangkap sedang pesta narkoba di sebuah hotel “Melati” aku berusaha menutup telinga rapat-rapat. Walaupun masih terikat tali pernikahan yang suci, kali ini aku tak mau menyelamatkan istriku dari jerat hukum. Biarlah itu menjadi tanggung jawabnya sendiri. Semoga pengalaman pahit itu bisa membukakan pintu tobat baginya dan kembali ke jalan Tuhan.
Istriku resmi ditahan karena kasus narkoba. Sebenarnya ini bukan pelanggaran pertama yang dialakukannya. Sebelumnya pernah dilakukan bersama Boy. Petugas telah lama mencium barang haram yang mereka sembunyikan. Pada saat dilakukan pengejaran oleh petugas mereka beruasaha kabur. Namun kejahatan mereka tidak diberkati Tuhan. Sebenarnya Tuhan telah memberi peringatan untuk segera bertobat. Dia mengalami kecelakaan cukup fatal dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Beruntung pada saat itu kasusnya tidak dilanjutkan berkat jasa Fredi, adikku yang kebetulan mempunyai jabatan penting. Sekarang aku melarang keras, agar Fredi tidak menggunakan jabatannya untuk menyelamatkan istriku.
Hari itu aku menjenguk istriku di ruang tahanan Polres kota. Beberapa polisi jaga yang mengenalku tampak terkejut. Bahkan seorang ajudan polisi tergopoh-gopoh menyambutku. Dia mengira bahwa aku akan menemui adikku yang kebetulan sebagai atasannya.
“Selamat pagi.” sapanya ramah.
“Selamat pagi.” balasku
“Maaf, Bapak sedang rapat. Silahkan tunggu di dalam.” Dia mempersilahkan aku menunggu di ruang tamu. Aku hanya tersenyum menanggapi tawaran itu.
“Saya mau menjenguk tahanan.” Jawabku pelan.
“Mari saya antar Pak.” Aku melangkah menuju ruang tahanan bersama seorang polisi yang ramah. Perasaan gundah membuncah dalam dada. Melihat istriku meringkuk di balik jeruji membuat hatiku teriris. Rasa iba menggelora dalam dadaku. Rahangku kaku menahan pilu, namun aku berusaha membendung air mataku. Aku tak boleh menunjukkan jiwaku yang rapuh di depan istriku. Sesungguhnya saat itu kekerasan hatiku yang penuh dendam dan kebencian telah luluh. Tiba-tiba polisi yang ramah itu menepuk bahuku. Tatapan matanya teduh seolah ingin menghiburku.
“Bapak bisa bicara dengan ibu di depan. Di sana lebih santai.” Tanpa menunggu jawabanku, dia membawaku ke ruang yang dimaksud. Sesaat kemudian istriku telah duduk di depanku dengan baju tahanan yang kumal. Model keartisan yang melekat dalam dirinya sirna sudah. Rambutnya berantakan menutupi sebagian wajahnya yang tertunduk. Kusibakkan rambutnya dan kutegakkan kepalanya hingga kedua bola matanya yang indah menatapku. Beberapa saat kami hanya mampu bicara lewat tatapan mata. Ada kepedihan yang menusuk jantungku.
“Maafkan aku...” bisiknya lirih. Air matanyapun berderai di pipi. Spontan tanganku mengusapnya mengikuti naluri sebagai seorang suami. Kubiarkan dia memelukku dan menangis di dadaku. Mungkin Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah di balik peristiwa ini. Setelah beberapa tahun hati kami dipisahkan oleh badai kehidupan yang dahsyat, semoga melalui peristiwa pahit ini hati dan cinta kami dipersatukan kembali. Aku harus mampu menunjukkan kesetiaan cintaku dengan jiwa besar. Pintu hatiku selalu terbuka menerimanya secara utuh. Walaupun semua orang mencibir sinis dan menganggapku tolol aku tak peduli. Aku akan menutup mata dan telinga agar tidak melihat dan mendengar hinaan mereka.
“Menangislah agar beban berat di hatimu menjadi ringan. Biarkan tangan Tuhan yang berkarya dalam hati kita.”
“Jangan pedulikan aku.! Aku tak pantas lagi menjadi istrimu.”
“Jangan bicara begitu. Ingat janji pernikahan kita di depan altar. Kita akan setia dalam suka dan duka. Jadi sudah seharusnya aku berusaha semampuku.”
“Bagaimana Putri? Aku ingin minta maaf padanya.”
“Nanti kusampaikan. Anak kita pasti akan mengerti.”
“Bisakah dia memaafkan aku?” tanyanya ragu.
“ Percayalah. Putri anak yang baik.”
“Tapi aku bukan ibu yang baik. Sudah sepantasnya aku mendekam di penjara terkutuk ini.”
“Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Yang penting bagaimana kita menemukan hikmah dari peristiwa ini.” Tanpa ragu kupeluk istriku. Dia tertunduk diam mendengarkan kotbahku. Tidak ada sikap berontak seperti yang biasa dilakukan selama ini terhadapku. Hatiku semakin tersentuh dan luluh. Tanpa terasa waktu terus berlalu. Dengan berat hati kutinggalkan istriku dalam tahanan.
“Aku pulang dulu. Jaga diri baik-baik. Semoga Tuhan memberkatimu.” Kupeluk istriku erat-erat. Gemuruh dalam dada semakin kencang. Doaku melambung melintasi gunung kebesaran Tuhan.
“Terima kasih. Kamu tidak mencampakkan aku di saat membutuhkanmu. Maafkan segala kesalahanku selama ini.”
“Semoga kehidupan kita menjadi lebih baik setelah peristiwa ini. Aku mencintaimu Ma.” Kupeluk sekali lagi istriku dengan hati trenyuh. Rasanya tak ingin kulepaskan selamanya tapi waktu harus memisahkan kami. Dia harus kembali ke balik terali besi sebagai seorang tahanan. Kedua mataku melepasnya dengan rasa iba. Jeritan luka menggelora merobek jiwa.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1446 H
- LIBUR DAN CUTI BERSAMA PEMERINTAH KALURAHAN PETIR
- PENGAJIAN RUTIN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH
- SAFARI TARAWIH TIM KAPANEWON RONGKOP DI PADUKUHAN NGURAK URAK
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN WERU
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN DADAPAN
- PENGAJIAN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH