SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 5

Administrator 16 Agustus 2019 09:44:00 WIB

Aku  tak menangis saat itu, karena ayah berpesan padaku; “Jangan kauiringi kepergianku dengan tangis, tapi antarlah perjalanan arwahku dengan doa.” Ucapan ayah itu terngiang kembali di telingaku. Amanah ayah harus kulaksanakan. Akupun segera melambungkan doa dari Puji Syukur untuk ayah tercinta. “Allah, pangkal kehidupan semua insan, Engkau telah memanggil ayah kami Yohanes Sarjono dari tengah-tengah kami untuk kembali ke hadiratMu. Dia sekarang berada di pangkuanMu. Tetapi kami tetap merasa bersatu dengan dia. Sebab kami semua adalah putraMu, warga persekutuan kaum beriman dahulu, kini dan yang akan datang. Kami yakin bahwa hidupnya hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan; dan bahwa kediaman abadi kini tersedia baginya di surga. Didasari oleh keyakinan ini, semoga dalam menghadapi maut yang tak terelakkan kami tidak lagi merasa takut, karena sungguh-sungguh didukung oleh harapan akan hidup abadi yang Kaujanjikan kepada kami...   Amin.”

Malam itu saudara dan handai taulan mulai berdatangan. Kami tak menyangka bahwa yang datang memberikan penghormatan terakhir bagi almarhum ayah sebanyak itu. Siang harinya semakin banyak yang datang. Beberapa terop yang dipasang di jalan depan rumah telah penuh. Banyak diantara mereka yang mencari tempat duduk di bawah pohon di sekitar rumah. Rombongan dari berbagai lembaga dan komunitas sosial memadati jalan kampung menuju peristirahatan terakhir ayah di Kauman Karangrejo. Mobil jenazah melaju pelan dengan iringan doa dan pujian.

Puji syukur pada Tuhan dan terima kasih pada semua pihak yang telah memberikan perhatian dan bantuan dalam bentuk apapun. Semoga kebaikan mereka tanpa terkecuali diberkati Tuhan sebagai amal.

Selama tujuh hari kami melakukan doa arwah dengan dukungan penuh para saudara di lingkungan sekitar. Bahkan bukan hanya saudara seiman yang memberikan dukungan doa. Mereka yang berbeda keyakinan juga menggelar doa bagi ayah. Kami terharu dan semakin bangga pada ayah, ketika beberapa orang secara khusus datang dari Jakarta. Mereka mengaku sebagai perwakilan mantan murid ayah yang bekerja di Jakarta. Saat mereka membicarakan kenangan bersama ayah, aku semakin mengerti bahwa setelah meninggal kita hanya akan dikenang karena kebaikan atau keburukan yang kita lakukan selama kita hidup. “Ayah kami bangga padamu. Semoga kami mampu melanjutkan nilai-nilai kehidupan yang telah kauajarkan pada kami.”

Hari demi hari memberi warna dan irama kehidupan semakin merona. Aktivitasku sebagai guru honorer dan pengarang sekaligus wartawan lepas kujalani lagi. Walaupun honorku sebagai guru hanya lima puluh ribu rupiah dan satu judul cerpenku dihargai dua puluh empat ribu rupiah oleh majalah Hidup Jakarta, aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku. Aku merasakan bahwa kebahagiaan itu tidak hanya ditentukan oleh besarnya nominal uang yang kumiliki. Ketika karyaku dimuat pada sebuah media dan honorku cukup untuk makan bersama pacar tercinta, itu sudah kebahagiaan yang luar biasa bagiku.

Setiap minggu pagi aku dan pacarku,Monica Anggraeni, pergi ke gereja bersama. Pada saat menjadi pacarku dia belum dibaptis secara Katolik, tetapi sudah mengenal ajaran gereja dari sekolah. Dia tamat  SMPK Santo Thomas sekitar tahun 1990. Setelah menjadi pacarku dia memutuskan untuk mengikuti katekumen dan dibaptis dengan memilih Monica sebagai Santa pelindungnya. Semoga Santa Monica sebagai pendoa yang luar biasa menjadi teladan hidup kekasihku. Keputusannya untuk dibaptis bukan karena permintaanku tetapi atas kemauannya sendiri. Aku merasakan kebahagiaan kami semakin sempurna saat melihatnya menerima sakramen permandian di gereja Santo Yosef Ngawi. Kujabat erat tangannya dan kuucapkan proficiat.

“Selamat ya. Semoga hidupmu dipenuhi oleh roh kudus.”

“Terima kasih.”

“Semoga cinta kita semakin diteguhkan oleh iman yang makin dewasa.”

“Amin.”

Pulang dari gereja kami berboncengan menuju warung soto di Segaran. Kami berdua menikmati soto babat dan teh manis. Kami sudah tak canggung lagi menunjukkan kemesraan karena akan segera menikah. Kesepakatan keluargapun sudah bulat. Secepatnya kami akan menikah.

Hari indah yang sudah di depan mataku hampir sirna, karena aku terbakar api cemburu. Malam itu gerimis turun membasahi tubuhku. Susah payah aku datang menemui pacarku, tapi di depan mataku dia bercanda mesra dengan seorang pria. Aku tahu bahwa lelaki itu bernama Choiri. Walaupun lelaki itu sudah punya pacar, tapi dia berusaha memikat hati pacarku. Untuk menghindari konflik maka malam itu kubatalkan niatku untuk menemui pacarku. Untuk memadamkan api yang berkobar dalam dada aku mengayuh sepeda menuju alun-alun merdeka Ngawi dan membiarkan tubuhku basah kuyup diguyur hujan yang semakin lebat. Sepasang meriam di alun-alun itu sebagai saksi bisu atas luka hatiku. Namun demi cinta aku tak mau menyerah. Kucari tahu sejauh mana hubungan pacarku dengan lelaki yang bernama Choiri itu. Memang masih tahap pendekatan, tapi sudah merusak kebahagiaanku karena pacarku tampak memberi harapan. Pada saat itu aku mulai meragukan kesetiaan pacarku.

Beberapa informasi yang kurang menyenangkan semakin membuatku sakit hati. Jiwaku merapuh dan semangatpun luluh. Akhirnya aku jatuh sakit dan harus opname beberapa hari di rumah sakit. Dalam keputusasaanku rasanya aku ingin segera menyusul ayah. Namun semangatku kembali bangkit ketika pacarku datang menjengukku di rumah sakit. Dia bersama ibu dan anggota keluarganya yang lain datang menjengukku. Bagai dihempaskan oleh gelombang yang dahsyat aku terkejut. Ada rasa bahagia yang tak terkira. Sepasang mata indah Anggraeni menyejukkan hatiku. Cinta yang kurasakan lebih manjur dari segala jenis obat yang telah diberikan oleh dokter di rumah sakit ini.

“Maafkan aku baru bisa datang sekarang.”

“Siapa yang memberitahumu?”

“Pak Parjimin.” Dia merapat ke sisiku. Kugenggam erat tangannya dan kuisyaratkan bahwa aku sangat mencintainya. Aku yakin diapun merasakan getaran cintaku. Mereka yang datang menjengukku berbagi cerita dengan penuh keakraban di sekitar pembaringanku. Ruang perawatan yang sempit itu mendadak berubah menjadi tempat pertemuan keluarga penuh keakraban dan bersahabat. Bau obat dan tajamnya jarum infus tak lagi menyiksaku. Aku mulai bisa tersenyum saat mendengar canda yang menghibur. Dalam diam aku bersyukur pada Tuhan yang telah mengutus roh hikmat sehingga aku bisa memahami peristiwa ini  dengan bijak.  

Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, aku mulai menjalankan tugas seperti biasanya. Hubunganku dengan Monica Anggraeni telah mesra kembali. Namun menjelang hari pernikahan, badai kembali datang. Kali ini lebih dahsyat dari yang kualami sebelumnya. Orang tuanya yang semula sangat mendukung hubungan kami, tiba-tiba berubah pikiran. Karena desakan oknum pegawai perhutani yang menjanjikan pekerjaan bagi Anggraeni, orang tuanya tergiur pada tawaran itu. Mereka menginginkan anaknya menjadi pegawai sehingga tega untuk mengorbankan hubungan kami. Dengan berbagai cara kami ingin dipisahkan. Pedukunan dan dunia hitam yang seharusnya tidak dilakukan lagi oleh orang beriman ternyata masih dilakukan. Memang cara-cara irasional yang bertentangan dengan ajaran agama masih sering dilakukan oleh sebagian masyarakat Ngawi, bahkan sampai di jaman modern ini. Aku terseret dalam lingkaran magis yang tak kusadari.   

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung