SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 8

Administrator 06 September 2019 10:22:16 WIB

Waktu seolah berjalan begitu cepat. Anakku tumbuh sebagai satria tampan yang penuh kharisma. Semua orang menyayanginya. Kecerdasannya yang di atas rata-rata anak normal seusianya membuat banyak orang semakin kagum padanya. Anakku sungguh menjadi sumber kebahagiaan dan kebanggaan bagi kami.

Kami menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Istriku yang cantik dan sangat bertanggung jawab membuat semua beban terasa ringan. Bahkan demi menopang kebutuhan keluarga, istriku rela membanting tulang. Selain mengurus anak, istriku menjalankan usaha kecil membuat makanan ringan. Hasilnya cukup lumayan. Namun masyarakat sekitar yang masih agak primitif cara berpikirnya kurang bijaksana. Mereka merasa iri melihat hidup kami lebih mapan dan berkecukupan. Berbagai gangguan kecil kami alami, tapi tak membuat kami menyerah. Kami tak membalas kejahatan mereka. Berusaha mengalah dan memahami adalah cara yang lebih baik. Kami berusaha melakukan hal-hal kecil dengan cinta dan semangat yang besar bagi mereka, dan ternyata bisa mengubah cara berpikir mereka. Pelan-pelan mereka bisa membuka hati dan bahkan ikut membantu usaha istriku membuat makanan kecil.

Persaudaraan kami dengan masyarakat Sasak semakin harmonis dan sangat menyenangkan. Kebaikan masyarakat dusun Bajur, di mana kami pernah tinggal di sana tak mungkin kulupakan. Ketulusan mereka menerima kami sebagai saudara terbukti dari sikap mereka. Aku merasa semakin nyaman tinggal Bumi Gora Nusa Tenggara Barat.

Kasih Tuhan sungguh berlimpah. Pada saat anak pertamaku berusia lima tahun, istriku hamil anak yang kedua. Dengan pertimbangan agar kelahiran anakku bisa mendapatkan perawatan medis lebih baik maka istriku menghendaki melahirkan di Jawa. Maka pada saat usia kandungannya sekitar enam bulan istriku kuantar pulang ke rumah mertua. Sementara aku hidup sendiri di Lombok demi tugas. Jauh dari keluarga kadang-kadang membuatku merasa hampa. Jika rindu mendera, bayangan anak dan istri tercinta semakin mendorongku untuk segera pulang. Namun aku hanya bisa memeluk anak dan istriku dalam mimpi. Saat terjaga aku tak lupa berdoa bagi keluargaku tercinta. Aku juga berdoa untuk anakku yang masih dalam rahim ibunya. Semoga Tuhan memberikan seorang anak perempuan yang cantik. Puji Tuhan doaku dikabulkan. Pada bulan Oktober 1999 putriku yang cantik lahir dengan  sempurna. Kebetulan aku bisa menungguinya selama proses kelahiran. Ketika pecah tangis pertamanya, rasa bahagiaku luar biasa. Kucium istriku dengan kasih yang suci.

“Selamat Ma. Terima kasih telah kauberikan kasih terindah bagiku.”

“Semoga anak kita diberkati Tuhan.” Ucapnya lembut.

“Amin.” Kugenggam tangan istriku penuh rasa sayang. Alangkah durhakanya aku ini, jika tak bisa bersyukur atas segala kasih karunia Tuhan yang berlimpah.

Aku tak boleh terlena menikmati kebahagiaan di Jawa. Libur sekolah akhir tahun sudah selesai. Aku menyadari bahwa tugasku sebagai guru di  Lombok telah memanggil. Walaupun ada perasaan berat meninggalkan keluarga, aku harus berangkat ke Lombok. Perjalananku sejak dari Ngawi sarat dengan rintangan. Berjam-jam di terminal Ngawi, aku belum mendapatkan bis. Semua bis jurusan Surabaya yang berangkat selalu penuh. Terpaksa aku harus ikut berdiri berdesakan dalam bis. Dasar nasib tidak beruntung. Ketika perjalanan sampai di Mojokerto bis yang kutumpangi terbakar, untung para penumpang selamat. Bis pengganti yang membawa kami ke terminal Bungur Asih pun mogok dan memerlukan waktu cukup lama untuk memperbaiki. Akibatnya aku terlambat masuk terminal Bungur Asih Surabaya. Sementara bis jurusan Mataram sudah berangkat. Terpaksa aku naik bis jurusan Banyuwangi dan menuju Lombok secara estafet. Sampai di Ketapang untuk bisa menyeberang ke Gilimanuk Bali harus bersabar. Gelombang besar membuat pelayaran sedikit tertunda. Hatiku mulai gelisah. Aku merasakan pertanda buruk akan terjadi. Namun aku berusaha menenangkan hati sambil terus berdoa dalam hati.

Perjalananku sungguh penuh perjuangan yang melelahkan lahir batin. Bis yang membawa kami dari Gilimanuk menuju Denpasar berjalan sangat lambat. Tengah malam baru memasuki terminal Ubung Denpasar. Sementara bis jurusan pelabuhan Padangbay sudah sepi. Terpaksa kami bersama beberapa orang naik mobil carry carteran menuju pelabuhan Padangbay. Menjelang fajar kami telah sampai di pelabuhan. Sambil menunggu kapal berangkat aku makan mie instan untuk pengisi perut yang belum terisi sejak siang. Karena kondisi masuk angin, baru beberapa kali kukunyah perut terasa mual. Aku tak dapat menahan muntah dan selera makanpun hilang. Kubuang mie instan yang belum sempat kumakan ke dalam tong sampah.

Tubuhku menggigil dan terasa sakit di dada. Seandainya di rumah, pijitan tangan istriku dan secangkir kopi panas yang dihidangkan dengan penuh cinta  pasti akan membuatku segera sehat. “Aku sakit Ma. Tolong pijitin kepalaku.” Bisikku lirih dalam hati. Istriku pasti tak akan mendengar pintaku, karena saat itu kami terpisahkan oleh jarak yang jauh. Istriku di Ngawi, sementara aku terombang-ombing diantara dahsyatnya gelombang besar menuju pelabuhan Lembar. Dahsyatnya gelombang membuatku mabuk laut. Aku sungguh-sungguh tersiksa. Rasa cemaspun semakin mencabik-cabik hatiku. Tujuh jam lebih kapal tua itu baru mencapai bibir pelabuhan Lembar untuk bersandar. Namun cobaan belum berakhir. Saat hendak bersandar, kapal mengalami kerusakan sehingga harus dilakukan tindakan darurat. Aku memberanikan diri melompat dari kapal yang mulai miring dan diselamatkan seorang nelayan tradisional.

“Naik sini...!” teriak seorang nelayan sambil menarik tanganku ke atas perahu kecilnya.

“Silahkan duduk.” Dia mempersilahkan aku duduk di atas perahunya.

“Terima kasih.” Sambil menggigil aku menyampaikan rasa terima kasihku yang tak terhingga. Dalam kecemasanku aku hanya bisa pasrah dan berdoa. Semoga aku selamat dan bisa berkumpul bersama keluarga tercinta.

Senja telah mulai gelap ketika aku menjejakkan kaki di pelabuhan Lembar. Kurebahkan tubuhku yang tak berdaya di atas tanah basah  bau sampah. Beberapa orang tergopoh-gopoh memberikan pertolongan. Aku digotong dan dibaringkan bersama beberapa penumpang lain yang sudah lebih dahulu mendapat pertolongan.

Para petugas tampak sibuk mendata jumlah penumpang kapal yang nyaris tenggelam. Setelah didata dan ditanya kemana tujuanku, seorang petugas membantuku memanggilkan mobil jurusan Mataram. Sampai terminal Bertais, mobil jurusan lombok Timur sudah jarang. Setelah menunggu beberapa saat, kulihat sebuah mobil yang melintas dan seorang kernet berteriak lantang.

“Masbagik terakhir.... Masbagik terakhir....!” Sopir memperlambat laju kendaraannya dan aku berlari mengejarnya. Setelah duduk aku memastikan bahwa mobil itu searah dengan tujuanku.

“Lewat Jelojok..?” tanyaku pada kernet itu.

“Ya. Ini mobil terakhir. Dari Jawa ya?” sang kernet sangat yakin kalau aku dari Jawa. Logat Jawaku mungkin terdengar sangat khas di telinganya.

“Ya.” Jawabku sambil menganggukkan kepala. Sesaat kemudian kami saling diam. Mobil melaju sangat kencang. Jalanan sangat sepi. Aku agak heran melihat jalanan yang tak seramai biasanya, tapi segera kutepis rasa penasaran yang muncul di benakku. Kupikir itu wajar saja karena sudah malam, walaupun biasanya jalan tak sesepi itu. Tanpa terasa mobil telah berhenti di depan terminal Jelojok Kopang Lombok Tengah. Aku turun setelah mengucapkan terima kasih pada kernet dan sopir. Kemudian aku berjalan gontai ke arah warung makan Bu Ancah. Perutku mulai keroncongan menahan lapar. Kubayangkan akan sangat nikmat makan plalah masakan khas Lombok yang pedas. Tapi sayang, aku hanya bisa menelan ludah dan menahan lapar sampai besuk pagi. Semua warung di sekitar pasar Jelojok telah tutup. Terpaksa aku harus jalan kaki dengan perut lapar.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung