SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 11

Administrator 11 Oktober 2019 15:09:27 WIB

Malam itu gerimis turun. Semilir angin sedikit menyejukkan para pengungsi yang berjubel di asrama perintis komplek polres Praya. Rasa ngantuk dan sedikit pusing mulai menghinggapiku. Kuingat pesan seorang dokter bahwa aku harus tidur bila gejala vertigo mulai terasa. Aku berusaha memejamkan mata dan tidur, tapi sulit. Pikiranku mengembara jauh. Malam terasa begitu panjang. Namun akhirnya aku tertidur juga. Walaupun hanya bersandar pada tembok yang dingin, aku bisa menikmati tidurku.  Ketika terbangun, kepalaku masih pusing. Pusing kepalaku ini mungkin karena belum minum kopi dan semoga bukan karena gejala vertigoku akan kambuh. Secangkir kopi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupku. Jika tak minum kopi sehari saja kepalaku terasa pusing.

Pagi itu aku berjalan menuju halaman depan polres. Mataku memandang ke seberang jalan dengan harapan bisa kutemukan warung kopi. Namun belum sampai meninggalkan halaman, langkahku terhenti karena seorang polisi mengejarku. Saat kutoleh, ternyata dia perwira polisi yang akan membantuku. Aku diberitahu bahwa nanti akan ada turis Australia yang akan dikawal petugas kepolisian menuju pelabuhan Lembar. Aku disuruh menunggu di depan dan sewaktu-waktu akan diberangkatkan. Mendengar informasi yang sangat menggembirakan itu, hatiku bernyanyi penuh suka cita. Apalagi setelah kulihat mobil warna putih yang membawa turis Australia itu memasuki halaman polres.  Aku berlari kegirangan ketika perwira polisi itu memberi isyarat agar aku segera  mendekat. Atas bantuannya aku bisa ikut mobil yang mengantar turis itu.

“Bagaimana Pak? Mau duduk di mobil barang ini?” tanya polisi itu padaku.

“Mau Pak. Yang penting bisa sampai pelabuhan Lembar.”

“Kalau begitu masuk saja.”

“Terima kasih Pak.” Akupun segera duduk di mobil yang membawa peralatan untuk selancar dan perbekalan lain. Mobil segera melaju meninggalkan halaman polres. Perwira polisi yang baik hati itu melambaikan tangan dan mengucapkan selamat jalan padaku. Akupun mengangguk haru dan mengucapkan terima kasih.

Sepanjang jalan menuju Lembar pengamanan cukup ketat. Pasukan TNI dan Brimob yang didatangkan dari Jawa Timur bersiaga penuh di pelabuhan Lembar dan sekitarnya. Pada hari ketiga pasca kerusuhan keamanan sudah benar-benar terkendali. Setelah memasuki area pelabuhan Lembar yang dijaga ketat oleh anggota TNI dan Polri aku turun dari mobil barang milik turis Australia yang kutumpangi. Dengan rasa aman aku memasuki kapal yang akan berangkat dari Lembar menuju pelabuhan Padangbay Bali. Untuk menjamin keselamatan penumpang, petugas keamanan melakukan rasia di atas kapal yang kami tumpangi. Setelah segala sesuatunya beres kapalpun melaju membelah gelombang. Hempasan angin yang dahsyat terasa menembus dadaku. Aku tak sanggup menahan benturan angin laut karena aku hanya mengenakan kaos tipis. Untuk mencegah masuk angin karena kencangnya angin laut, aku mencari tempat yang lebih hangat. Kebetulan dalam kapal itu tersedia cafetaria yang menyajikan aneka makanan dan minuman siap saji. Aku memesan kopi panas karena sejak pagi belum sempat menikmati kopi. Walaupun masih mengepulkan asap, kopi segera kuteguk. Dahsyatnya kopi panas mengalirkan kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Rasa pusing dan mata yang semula agak ngantuk, hilang seketika. Hatikupun bernyanyi mengikuti alunan musik yang sayup-sayup terdengar menyusup di telingaku. Irama riang menghentak dalam jiwaku. Kukejar bayangan lincah anakku yang melela di depan mata. Gelak tawanya penuh keceriaan saat kudekap dalam pelukanku.

“Aku menang...”

“Kamu memang hebat.”

“Ayo main lagi Pak!” dia menarik tanganku sambil menendang bola. Akupun berlari mengejar bola bersamanya. Saat aku terjatuh anakku tertawa manja menggoda. Aku tersenyum sendiri saat menyadari bahwa diriku tenggelam dalam lamunan. Rasa rindu ingin segera memeluk anak dan istri di rumah kian menggelora di dada. Sang nahkoda yang perkasa, seolah mendengarkan jeritan jiwaku. Dengan gagah kapal membelah samudra raya. Deburan ombak yang membuncah pecah berderai bersama buih memutih. Aku terpana menatap indahnya buih memutih yang menyampaikan pesan damai di hatiku.

Tanpa terasa laju kapal telah berhenti dan bersandar di pelabuhan Padangbay. Para penumpang berebut meninggalkan kapal dan ingin segera menjejakkan kaki di atas bumi Bali yang indah. Akupun tak mau ketinggalan. Bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, aku berlari mengejar bus jurusan terminal Ubung. Kebetulan masih ada tempat duduk yang tersedia untukku. Tak peduli bus tua yang sudah tak layak jalan itu berjalan tersendat-sendat. Aku hanya berharap segera sampai tujuan dan memeluk anak istri tercinta.

Perjalananku pulang kali ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan sepanjang hidupku. Aneka peristiwa yang kualami tersimpan dalam memori otakku. Setelah melewati berbagai rintangan, akhirnya aku bisa bernapas lega. Dengan hati berbunga aku melompat turun di terminal Ngawi. Hangatnya sinar mentari pagi menyambutku dengan ramah. Para tukang becak dan tukang ojekpun tak kalah ramahnya menawarkan jasa untuk mengantarku. Tanpa membuang waktu aku segera naik ojek. Tukang ojek itu ternyata mengenalku. Maka sepanjang perjalanan kami berbicara dengan akrab. Tanpa terasa tukang ojek telah berhenti di depan rumah mertuaku. Beberapa orang tampak berkumpul di sana. Suster dan beberapa saudara seiman di lingkungan Cicilia ternyata memanjatkan doa bagiku sebagai wujud iman dan kasih mereka yang tulus. Aku sangat terharu mendapatkan sambutan penuh cinta yang luar biasa. Mereka ikut bersuka cita melihatku pulang dengan selamat.

Kupeluk istriku erat-erat. Rasanya aku tak ingin berpisah untuk selamanya. Namun sesaat kemudian aku melepaskan pelukan istriku dan mencari anakku.

“Thomas mana?” tanyaku tak sabar

“Ada di dalam. Thomas..., bapak datang.” Panggil istriku dan anakkupun berlari memelukku.

“Bapak kenapa nangis?” tanyanya polos. Dia belum tahu apa yang telah terjadi.

“Bapak kangen kamu.” Kupeluk dan kucium anakku dengan penuh rasa cinta yang bergelora di dada. Dalam hatikupun mengucapkan do’a syukur atas anugerah besar yang telah membebaskan aku dari pencobaan berat.

Peristiwa yang kami alami sungguh bagaikan drama yang penuh keharuan rasa. Pertemuan indah itu merupakan pengalaman iman yang membuat hatiku semakin terbuka.  Aku tak lupa bersyukur atas segala rahmat yang telah kuterima. Maka hari itupun kami mengadakan do’a syukur bersama suster dan suadara-saudara seiman yang telah memberikan penghiburan bagi keluarga kami.

Usai do’a bersama, kami melanjutkan perbincangan penuh kehangatan. Walaupun kepalaku pusing dan tubuhku sangat lelah, aku berusaha menceritakan drama tragedi yang kualami karena mereka memintaku untuk bercerita. Secara kronologis semua kuceritakan pada mereka. Tidak ketinggalan tentang mobil misterius yang mengantarkan aku sampai di dekat tempat pengungsian. Ceritaku semakin bersemangat setelah istriku menghidangkan kopi panas. Secangkir kopi nikmat buatan istriku selalu menjadi sumber inspirasi dan semangat hidupku. Sampai kapanpun secangkir kopi kehidupan yang telah kunikmati bersama istriku tak akan pernah terlupakan.

Setelah semua tamu pulang, aku segera mandi dan minta dipijit istriku. Jika belum dikerokin dan dipijit, aku tak akan sembuh dari masuk angin. Sebelum mandi aku sudah minta pada istriku untuk menyiapkan benggol (uang logam kuno) yang biasa untuk kerokan sebagai terapi jika aku masuk angin. Istrikupun sudah sangat paham kebiasaanku. Sementara Thomas asyik tertawa menggoda adiknya dalam gendongan nenek. Saat melihat tubuhku mulai dihiasi lukisan garis merah karya tangan ibunya, Thomas mendekat dan tampak heran.

“Bapak kenapa?”

“Masuk angin.”

“Sakit?” tanyanya polos

“Sebentar lagi sembuh. Kamu main sama adik ya biar ibu mijitin bapak.”

“Gak mau. Saya minta gendong ibu.”

“Sebentar ya.”

“Sekarang.” Thomas merengek-rengek minta digendong ibunya. Walaupun masih ingin menikmati lembutnya pijitan tangan istriku tercinta, aku mengalah demi anakku. Canda tawa anakku terdengar lebih indah daripada lagu nostalgia. Semilir angin yang menyusup melalui jendela membelai lembut tubuhku. Seperti merasakan belaian kasih seorang ibu akupun tertidur.

Walaupun sudah bersama istri dan anak-anak tercinta, hatiku belum bisa tenang sepenuhnya. Aku harus segera mengurus pekerjaanku. Setelah satu minggu di rumah, aku kembali ke Lombok. Semula semua saudara memintaku untuk menunda keberangkatanku beberapa hari lagi sampai keadaan di Lombok benar-benar aman. Namun aku harus tetap berangkat. Tuhan pasti akan menjauhkan aku dari segala pencobaan dan akan memberi kemudahan atas segala usaha dan niat baikku. Maka akupun berangkat ke Lombok untuk mengurus pekerjaan demi masa depanku.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung