SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 14

Administrator 08 November 2019 16:27:58 WIB

Angin berhembus sepoi-sepoi. Senja kian merah menyongsong datangnya malam. Dalam kegelisahanku ada gejolak yang menghempas jiwaku. Kegersangan mengoyak dinding karang dalam dada. Hatiku menangis. Kini kusadari bahwa dalam kesulitan ini aku membutuhkan penopang hidup. Aku butuh pegangan hidup yang kuat. “Roh Keperkasaan, kuatkanlah hambaMu yang lemah ini, agar tabah menghadapi segala kesulitan dan derita. Semoga kami Kaukuatkan dengan memegang tanganMu yang senantiasa menuntun kami ...” Dalam doa masih ada sisa cinta dan asa. Tiba-tiba aku terlempar jauh bersama bayangan masa silam. Lintang Ayu hadir dalam kesendirianku. Tanpa senyum dia menatapku. Wajahnya begitu teduh. Tepat di depanku dia berbisik lirih. Suaranya yang lembut menyusup relung kalbuku.

“Jangan kau tanggung sendiri beban itu. Jika engkau lelah, rebahkan tubuhmu di bahuku. Aku akan menopangmu.”

“Kamu mendengar jeritanku?”

“Aku selalu ada dalam hidupmu. Jangan pernah menyerah! Sekarang bangkit dan lihatlah putri cantikmu itu.” Rasanya aku damai dalam pelukan Lintang Ayu. Namun sayang, pelukan yang sangat kurindukan itu hanya berlangsung sesaat. Aku terlempar kembali dalam kenyataan hidup yang pahit.

“Ayah...” suara itu menyadarkan aku.

Aku memandang wajah cantik putriku. Tatapan teduh mata indahnya mengingatkanku pada Lintang Ayu. Tiba-tiba aku mendapat semangat baru. Cinta membuatku lebih kuat menghadapi badai dahsyat dalam kehidupanku.  Demi anakku aku rela menanggung rasa sakit yang tak terperi.

“Ayah melamun lagi?” sapanya lembut sembari melangkah ke arahku. Di tangannya kulihat hantaran berisi secangkir kopi panas dan pisang goreng. Setelah meletakkan di atas meja batu di depanku, dia memeluk dan menciumku.

 “Selamat ulang tahun, semoga Tuhan memberkati karya dan usaha ayah. Semoga ayah panjang umur dan banyak rejeki. Saya hanya dapat berdo’a dan mengnyajikan secangkir kopi sebagai hadiah ulang tahun ayah.”

Aku tak dapat berkata apa-apa. Kupeluk dan kucium rambut hitam putriku. Gemuruh di dadaku tak terbendung. Air matakupun jatuh tak tertahan karena perasaan haru.

“Terima kasih anakku. Ayah tidak akan melupakan peristiwa indah ini. Kamu adalah hadiah terindah dalam hidup ayah. Tuhan memberkatimu nak.” Putri Kinasih, anakku, masih dalam pelukanku ketika melihat ibunya berjalan menuju dapur.

“Ibu...” Dia memanggil ibunya sembari berlari mengejarnya. Tangan ibunya digandeng dan dituntun berjalan ke arahku. Sesaat istriku berdiri dengan bengong. Dia memandang secangkir kopi yang masih mengepulkan asap dan beberapa potong pisang goreng di atas meja batu. Tatapan matanya penuh tanda tanya.

“Ayolah, ibu jangan mematung saja. Sekarang ucapkan selamat ulang tahun pada ayah.” Kalimat yang meluncur dari mulut manis Putri Kinasih membuat ibunya tersentak. Dia tampak bingung harus berbuat apa. Istriku memang tak pernah peduli pada hari ulang tahunku. Bahkan tanggal pernikahan kamipun tak pernah ingat.

“Istriku, kamu tak usah bingung harus memberi hadiah apa untukku. Omelanmu sudah cukup sebagai kado ulang tahunku.”

“Istri siapa yang tak akan ngomel kalau kebutuhan hidupnya tak dipenuhi suami?”

“Sudahlah, aku bisa mengerti. Sekarang jangan ngomel lagi. Kita jangan saling menyakiti. Bukankah kita dulu berjanji akan tetap saling cinta dan setia dalam untung dan malang? Mari kita rayakan ulang tahunku dengan makan gurami bakar di rumah makan Suminar. Kita bisa bernostalgia sambil berpikir tentang keluarga yang kita bangun.”

“Ayahmu mulai mengkhayal lagi. Membelikan bedak saja tak mampu sekarang malah mengigau yang aneh-aneh. Uang dari mana yang mau kau pakai nraktir kami di rumah makan mahal itu?” Nada bicara istriku tetap sumbang. Namun aku mencoba tersenyum walau terasa getir. Sambil meneguk kopi manis, kubelai rambut hitam putriku tersayang. Sepasang mata indah Putri Kinasih menatapku iba dan penuh tanya. Walau tak terucap aku dapat menangkap maksudnya.

“Tak usah dengarkan omelan ibumu.” Ucapku menghibur.

“Tapi?”

“Sudahlah, sekarang kamu ambil amplop coklat di meja kerja ayah.” Anakku berlari dengan lincah. Dalam sekejap dia telah kembali dengan wajah berseri-seri.

“Berikan pada ibumu.”

“Ini bu, cepat  buka.” Melihat isi amplop itu istriku setengah tak percaya.

“Mengapa ayah tidak mengatakan kalau dapat honor?” Seperti anak kecil istriku meloncat dan menciumku. Anakku tersenyum bahagia melihat kami mesra kembali.

“Sekarang ibu tidak ngomel lagi kan?” Tanya anakku menggoda ibunya. Malam itu kami menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang. Cahaya lilin menjadi saksi ungkapan bahagia dan syukur kami. Namun kebahagiaan kami belum lengkap karena anak pertamaku sedang pergi. Thomas jarang di rumah karena melihat orang tuanya tidak harmonis. Dia tak senang melihat kami sering bertengkar. Sejak istriku menjadi penyanyi campursari masalah sekecil apapun bisa memicu pertengkaran. Gayanya yang ala selebritis sangat menyebalkan dan sangat tak pantas sebagai darma wanita di lingkup pendidikan. Aku pernah ditegur kepala sekolahku karena penampilan istriku yang tak tahu diri. Dia menghadiri pertemuan resmi di kantor dengan mengenakan celana panjang dan rambutnya disemir coklat kemerahan. Padahal yang lain mengenakan seragam darma wanita dengan sangat santun. Dari penampilan saja sering menimbulkan percekcokan, apalagi kalau sudah menyangkut campursari dan perselingkuhan. Untuk menghindari pertengkaran kami saling menjaga jarak. Akibatnya justru semakin buruk, karena komunikasi kami putus. Keadaan semakin memburuk setelah istriku sering meninggalkan rumah. Setiap ada masalah dia malah pergi dan menceritakan masalah rumah tangga pada orang lain. Aku tak pernah mendapat kesempatan untuk mengajaknya  bicara dan menyelesaikan masalah karena selalu ada pihak ketiga yang menjadi penghalang. Walaupun hidup sebagai suami istri dalam satu rumah, kami sulit mewujudkan  kebersamaan.  Berbagai cara telah kulakukan, tapi selalu gagal. Istriku hanya mau berkomunikasi pada saat  membutuhkanku uang. Itupan  hanya melalui sms. Sangat tidak etis. Namun malam ini aku ingin menguburkan semua kenangan pahit yang menyakitkan itu. Aku menengadah ke langit dan berharap bisa melihat Lintang Ayu tersenyum memandangku.

Malam semakin larut. Cahaya lilinpun mulai padam. Kami kembali ke rumah yang gelap. Walaupun volume pesawat televisi kuputar keras suasana terasa sunyi. Aku kembali terpaku di ruang hampa. Sementara istriku asyik bercanda dengan orang lain melalui smartphone yang baru dibeli beberapa hari yang lalu. Tak lama kemudian dia keluar dari kamar dengan dandanan layaknya gadis yang sedang jatuh cinta. Tanpa pedulikan suami dan putrinya dia menyambar kunci di atas meja dan kabur dengan motor barunya. Aku tak sanggup mengungkapkan betapa sakitnya luka hatiku. Tak ada suami yang bisa menahan perasaan cemburu bila istrinya pergi dengan lelaki lain tanpa mengenal waktu.

Jam sebelas malam lebih istriku belum pulang. Dengan hati yang remuk redam aku memohon pada Tuhan. “Tuhan, tunjukkan kuasaMu sebagai teguran atas kesalahan istri hamba. Semoga dengan teguranMu bisa membuatnya bertobat. Tolonglah dia agar bisa menjadi istri dan ibu yang baik dalam keluarga kami. Amin...”

Hampir jam dua belas malam, pintu rumahku belum terkunci. Aku masih terpaku di ruang hampa tanpa mampu memejamkan mata sedetikpun. Ketika suara motor istriku menendang genderang telingaku, aku berdiri membukakan pintu. Tanpa sapa dia melangkah di depan hidungku. Aroma parfum yang menyengat membakar amarah. Jika dada ini tidak kuat pasti sudah meledak. Seperti seorang budak yang tak punya harga diri, aku mengunci pintu dan memadamkan lampu. Ketika kutengok ke kamar, istriku sibuk SMS. Api cemburu membakar ubun-ubun kepalaku. “Pasti ini SMS dengan selingkuhannya!” begitu teriakku dalam hati. Ingin rasanya kurebut HP itu dan kubanting sampai pecah berantakan. Atau kutampar wajah cantik istriku sampai babak belur. Tapi aku tak mau ribut bertengkar di tengah malam. Malu pada anakku. Malu pada tetanggaku. Malu pada diriku sendiri karena aku tahu bahwa ini adalah salibku. Salib kehidupan yang harus kutanggung dengan iklas.

Kuambil tikar kumal dan kucoba pejamkan mata di atas lantai dingin. Hanya bayangan yang mencabik-cabik hatiku yang muncul. Malam terasa begitu panjang. Sampai pagi aku tak bisa tidur. Kepalaku pusing bukan main. Seperti seekor ayam terserang virus flu burung aku merenungi nasibku. Aku menyadari telah terburu-buru menyunting anggrek hutan ini karena cinta buta. Namun aku tak boleh menyesali pilihan hidupku. Inilah konsekwensi dari pilihan hidupku.

Sebelum berangkat kerja aku muntah-muntah di kamar mandi. Walaupun sakit, aku memaksakan diri berangkat kerja. Bagiku, kantor menjadi tempat persinggahanku yang nyaman. Di kantorlah aku bisa bercanda dan tertawa.

“Met Ultah Pak. Semoga tambah sukses.” Bu Dewi menjabat tanganku dan beberapa teman yang lain bergantian memberi ucapan yang sama. Aku berusaha menunjukkan wajah ceria sebagai ungkapan rasa bahagia. Tapi Pak Joko yang melihat wajahku pucat tak  bisa kubohongi.

“Kamu sakit ya? Wajahmu pucat.” Dia mendekatiku dan menatapku lebih seksama. Mendadak mataku berkumang-kunang. Keringat dingin membasahi bajuku. Kusandarkan tubuhku sambil memegangi dadaku yang mendadak nyeri luar biasa. Napasku terasa berat.

“Dadaku sakit.” Rintihku tak bisa kutahan.

“Kuantar ke dokter sekarang.” Pak Joko sibuk dan tampak mencemaskanku.

“Tidak usah. Paling hanya masuk angin.”

“Tapi Bapak harus ke dokter sekarang. Pakai mobil saya saja Pak Joko.” Bu Dewi, pimpinanku, memberi saran bernada memaksa.

“Pakai mobil saya saja Bu.”

“Ya sudah. Kalau ada apa-apa cepat hubungi saya.” Bu Dewi sangat peduli padaku. Aku  merasa tak enak hati pada rekan kerjaku sekantor.

Pak Joko mengemudi agak terburu-buru. Ketika keluar dari halaman kantor, tepatnya di jalan Ronggowarsito hampir saja menabrak becak. Untung mobil masih bisa dikendalikan. Namun aku tak bisa menutupi keterkejutanku.

“Tak usah buru-buru Pak Joko.”

“Tenang saja.” Dia tersenyum tapi wajahnya kelihatan tegang.

Dalam waktu sekejap mobil telah berhenti di depan ruang IGD rumah sakit dr. Suroto. Beberapa perawat sibuk melakukan pertolongan. Aku masih sempat melihat wajah dokter Jimy sebelum akhirnya pingsan. Kebetulan dokter Jimy kenal dekat denganku, maka aku mendapat perawatan yang layak.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung