SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 16
Administrator 06 Desember 2019 12:21:13 WIB
Melihat wajah polos anakku yang tertidur pulas, anganku terbang melayang. Dosa apa anakku ini sehingga tidak mendapat kasih sayang dari seorang ibu? Dosa apa aku ini sehingga harus menerima ujian seberat ini? Walaupun sudah lewat tengah malam, aku masih berharap istriku pulang. Setidaknya besuk pagi ketika anakku bangun bisa melihat ibunya.
Menjelang subuh terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Kubuka pintu dan cepat-cepat kembali menemani tidur anakku. Aku sengaja tak mau melihat dengan siapa istriku datang. Aku tak mau terbakar api cemburu dan membenci lelaki yang bersamanya malam ini. Jika lelaki itu hidung belang, sesungguhnya belum tentu dia bajingan. Lelaki alim sekalipun bisa menjadi bajingan kurang ajar jika berdekatan dengan iblis cantik dan seksi seperti istriku.
Dengan wajah lusuh istriku merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang bersebelahan dengan tempat tidur anakku. Walaupun satu kamar, kami sudah pisah ranjang bertahun-tahun. Sebagai suami aku hanya bisa melihatnya dan terluka setiap saat. Dia tertidur bagai perempuan malam yang kelelahan. Tanpa do’a, tanpa harapan.
Seruan adzan subuh membangunkan anakku. Begitu membuka mata dia mengguncang-guncang tubuhku. Dia berpikir aku masih tidur.
“Bangun Yah. Sudah pagi.”
“Oke. Kita gosok gigi dan cuci muka dulu, terus jalan-jalan sebentar.”
“Siap komandan.” Putri Kinasih cepat berlari penuh semangat. Wajahnya berseri-seri secerah mentari pagi.
Setiap Minggu pagi di alun-alun Ngawi pasti banyak orang yang berolah raga. Program car free day cukup mampu menghipnotis masyarakat Ngawi untuk datang ke alun-alun. Ada yang sekedar jalan-jalan, berlari mengelilingi alun-alun atau mengikuti senam sehat. Aku dan Putri cukup jalan dua putaran terus pulang. Sesampai di rumah, mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke gereja. Jarak rumahku dengan gereja agak jauh. Pagi itu kami naik becak supaya tidak terlambat. Kebetulan Pak Sabar yang biasa mengantar Putri ke sekolah berada di depan gang depan rumahku.
“Ke gereja Pak.” Pak Sabar mendorong becaknya, tapi kemudian berhenti. Kupikir terjadi sesuatu pada becaknya.
“Ada apa Pak?” tanyaku sambil menoleh ke belakang.
“Tidak menunggu ibu, Pak?” Pak Sabar balik bertanya.
“Oh.., tidak Pak. Ibunya agak sakit.” Aku terpaksa berbohong. Entah bohong yang kulakukan ini dosa atau tidak di hadapan Tuhan. Tapi maksudku baik, yaitu agar aib keluargaku tidak tersebar kemana-mana
“Kenapa ayah bohong?” tanya anakku.
“Nanti kujelaskan di rumah.” Aku berusaha memberikan jawaban yang terbaik, tapi entah benar atau salah. Untunglah pagi itu Putri tak mendesakku lagi. Sikapnya yang manis membuatku lega.
Suasana selama perayaan misa sangat hening. Kotbah pagi itu memberikan pencerahan iman bagiku. Semangat hidup yang hampir padam seolah menyala kembali. Kami meninggalkan gereja dengan hati damai.
Aku dan anakku berjalan menyusuri trotoar sepanjang jalan Sultan Agung menuju pasar besar Ngawi. Seperti biasa, sepulang dari gereja kami berbelanja kebutuhan dapur. Walaupun aku mempunyai istri, tapi jarang menikmati masakan istriku. Semua keperluan sehari-hari kukerjakan sendiri. Mulai memasak, mencuci dan mengurus anak, banyak kukerjakan sendiri. Untunglah Tuhan memberiku seorang anak yang senantiasa menjadi sumber semangat hidupku. Seberat apapun beban dalam hidupku terasa ringan bila kujalani bersama, Putri Kinasih, anakku.
“Sudah lapar?” tanyaku pada Putri. Sebab hari itu sudah hampir jam sepuluh, tapi perut kami belum terisi apa-apa. Selain hari Minggupun kami sering terlambat makan. Putri sudah terbiasa menikmati penderitaan bersamaku. Tapi anakku yang besar mengungkapkan aksi protesnya dengan sering pergi meninggalkan rumah. Hal ini sangat mencemaskanku. Aku terjebak dalam situasi yang sangat dilematis. Setelah terlena sesaat memikirkan anakku yang jarang di rumah, Putri menyadarkanku. Aku cepat-cepat mengalihkan perhatian dengan mengajaknya sarapan.
“Sarapan dulu ya?” bujukku sambil menunjuk warung sederhana yang menyediakan soto ayam.
“Masak sendiri saja Yah. Nanti kita masak bersama sambil cerita.”
“Masak apa kita hari ini?”
“Sayur asem, lauknya tempe ya?”
“Ayah sih terserah kamu.”
Kami berdua menikmati keceriaan hari itu. Usai belanja secukupnya, kami berjalan ke arah pangkalan becak. Kebetulan Pak Sabar masih antri menunggu penumpang. Begitu melihat kami, dia langsung mendekat.
“Saya antar Pak?” Tanpa menunggu jawaban, Pak Sabar mengambil tas plastik berisi barang-barang belanjaaan kami dan meletakkan di atas becaknya.
“Kalau masih ada yang perlu dibeli, saya tunggu Pak.”
“Sudah cukup Pak. Langsung pulang saja.”
“Ibu sakit apa Pak? Kasihan harus belanja sendiri.” Pertanyaan itu mengusik ketenangan hatiku. Terpaksa aku berbohong lagi.
“Hanya masuk angin.”
Benar kata orang bijak; “Sekali orang berbohong, maka dia akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya.” Sekarang aku merasakan dan mengalaminya. Sepanjang jalan hatiku terus berkecamuk. Aku yang tak pernah berdusta merasakan kegelisahan karena kebohongan yang terpaksa harus kulakukan hari ini. Tanpa kusadari becak telah berhenti di depan rumahku.
“Terima kasih Pak.” Kusodorkan ongkos becak pada Pak sabar.
“Sama-sama Pak.” Dia memutar becaknya penuh semangat dan buru-buru pergi. Melihat semangat Pak sabar, rasanya aku mendapat pelajaran berharga darinya. Bagiku, Pak Sabar merupakan guru karena bisa memberikan teladan kehidupan.
Pintu rumahku masih tertutup. Aku dan Putri melangkah memasuki ruang yang hampa. Sunyi seolah tak berpenghuni. Dari celah pintu kamar kulihat istriku masih tertidur. Ada rasa muak dan marah yang kusembunyikan. Putri, anakku, dengan cekatan mulai menyiapkan berbagai keperluan masak. Aku merebus air sambil mencuci beras untuk dimasak. Setelah air mendidih, aku membuat kopi sambil membantu anakku memasak.
“Pasti lezat kalau kamu yang masak.”
“Perempuan harus pinter masak kan?”
“Sebaiknya begitu.”
“Kenapa ibu tidak?”
“Ibumu juga pinter, tapi males.”
“Kata ayah, perempuan itu harus rajin. Kenapa ibu malas ayah biarkan? Tapi kalau Putri yang malas nggak boleh?”
“Menurut Putri, malas itu baik nggak?”
“Nggak?”
“Putri ‘kan anak baik. Maka harus rajin dan berusaha hidup sederhana.”
“Kenapa harus sederhana?”
“Karena sederhana itu apa adanya, jujur dan penuh rasa syukur. Kalau bisa begitu, hidup kita akan bahagia.”
“Kita ini sederhana apa miskin Yah?”
“Mungkin dua-duanya. Tapi walau kita miskin jika bisa bersyukur hidup kita akan bahagia. Kekayaan belum tentu membawa kebahagiaan. Ada kalanya, kekayaan membuat kita lupa. Lupa siapa diri kita, lupa sesama, bahkan lupa pada Tuhan yang maha pemurah. Kita mendapat rejeki berkat kemurahan Tuhan. Maka jangan sampai kita lupa bersyukur.”
Kami terus berdiskusi tentang hidup yang kami jalani. Betapa senangnya bisa menikmati hidangan sederhana yang kami santap hari itu. Seandainya kami sekeluarga bisa duduk satu meja dan makan bersama, tentu akan lebih membahagiakan. Sayang istriku tak pernah peduli pada keinginan kami. Keinginan kami sesungguhnya sangat sederhana. Hanya ingin duduk bersama, berdoa bersama, makan bersama dan sekali waktu rekreasi bersama. Sayang, istriku sekarang menjadi sangat egois dan sombong. Dia tenggelam dalam mimpinya sendiri. Mimpi yang membuatnya kehilangan jati diri. Bahkan kehilangan harga diri.
Sore itu istriku berdandan ala selebritis dan pergi meninggalkan rumah. Aku hanya bisa menebak-nebak kemana dia mau pergi. Mungkin mendapat job nyanyi di Café atau kencan dengan lelaki berduit. Walaupun berusaha bersabar, tapi api cemburu dan amarah selalu menyiksaku. Jangankan melihat istriku berkencan dengan orang lain, membayangkan saja hatiku sudah terbakar. Meja batu di belakang rumahku menjadi saksi bisu jeritan hatiku. Jika lelaki pantas menangis, rasanya aku ingin menangis agar beban berat yang memadati rongga dada ini sedikit berkurang.
“Ayah melamun lagi?” suara Putri membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum dan berpura-pura mencari inspirasi untuk melanjutkan menulis novel. Kalau alasanku tentang menulis, Putri tak akan benyak bertanya. Dia memahami bahwa menulis bagian dari pekerjaanku. Dari hasil menulis itulah sebagian rejeki kami dapatkan.
“Ayah mencari inspirasi. Semoga novel ayah nanti menjadi best seller ya.”
“Amin. Sementara ayah mencari inspirasi, Putri buatkan kopi ya?”
“Terima kasih.”
Sambil menunggu kopi buatan Putri, aku berpikir keras. Konflik rumah tanggaku yang tak kunjung selesai membuat konsentrasiku kacau. Untaian kalimat yang biasanya mengalir bagai deranya sungai Nil menjadi kering. Apa jadinya kalau seorang penulis sudah tak mampu merangkai kalimat indah dan bermakna?
“Kopinya Ayah. Selamat bekerja ya.” Putri Kinasih memeluk dan menciumku. Semangatku mendadak bangkit. Aku segera tenggelam dalam lautan fantasi. Jari jemariku menari lincah menuliskan kata hati. Seolah hidup ini hanya mimpi. Fantasiku terbang semakin tinggi. Sampai pagi aku asyik dengan pekerjaanku. Berpuluh-puluh halaman telah kutuliskan. Namun cerita belum kuakhiri. Masih ada segudang asa yang ingin kuungkapkan tentang hidup ini. Walaupun hidupku hanya bagaikan secangkir kopi, aku ingin berbagi melalui kisah ini. Semoga kisah yang kutuliskan mampu mencairkan hati yang membeku.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1446 H
- LIBUR DAN CUTI BERSAMA PEMERINTAH KALURAHAN PETIR
- PENGAJIAN RUTIN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH
- SAFARI TARAWIH TIM KAPANEWON RONGKOP DI PADUKUHAN NGURAK URAK
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN WERU
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN DADAPAN
- PENGAJIAN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH