SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 21
Administrator 20 Maret 2020 15:25:30 WIB
Saat siuman aku sudah berada di rumah sakit. Aku merasakan sakit yang tak terperi. Kaki kananku patah. Aku menangis pedih. Tangan ayah yang hangat penuh kasih mengusap air mataku. Sementara Heni menggenggam lenganku.
“Kami semua sayang kamu.” Suara ayah yang lembut terasa menembus jantungku. Tangisku semakin meledak.
“Mas Setiawan sakit?” Heni memegang-megang tanganku. Sepasang bola matanya menatapku penuh empati.
“Mas Setiawan belum makan? Makan roti ya?” Ucapan yang keluar dari mulut Heni menyejukkan hatiku.
“Lihat adikmu! Dia begitu sayang padamu,” suara ayah menyusup relung kalbuku.
“Nanti Mas pulang bersama Heni ya?” pintanya tulus sambil mendekapku.
“Tidak!” Aku masih sakit hati dan tak mau pulang.
“Kalau begitu aku ikut di sini.” Heni mendekapku makin erat. Seolah dia tak mau berpisah lagi. Aku mengigit bibir menahan tangis keharuan. Namun air mataku tetap tak terbendung. Ayahpun ikut mengusap air mata. Kami berdua didekapnya penuh kasih. Suasana menjadi penuh keharuan rasa.
Setelah berhari-hari terbaring di rumah sakit, akhirnya aku harus pulang ke rumah yang sangat kubenci. Aku semakin tersiksa. Aku menjadi rendah diri dan tak berharga. Kakiku yang patah mungkin akan membuatku cacat selamanya. Hampir saja kakiku diamputasi karena penyambungan yang tidak sempurna mengakibatkan infeksi tulang. Hanya mukjijatlah yang menyelamatkan aku dari amputasi saat itu.
Infeksi pada kakiku kian parah dan hampir membusuk. Aku sudah merasa putus asa. Para dokter menyarankan agar aku mau diamputasi. Namun aku menolak. Aku lebih baik mati dengan anggota tubuh lengkap daripada hidup dengan kaki buntung. Ayah memahami keputusanku. Dia tidak memaksaku untuk menjalani amputasi.
Ayah sangat terpukul ketika melihat kondisiku makin memburuk. Aku sering pingsan dan dinyatakan kritis. Secara medis kemungkinan untuk diselamatkan sangat kecil. Menurut dokter, infeksi yang kualami sudah hampir menjalar ke sumsum. Kemungkinan aku akan lumpuh atau bahkan mati. Tapi aku masih berharap ada keajaiban yang datang menyelamatkan aku dari kematian. Aku terus berdoa dan menunggu datangnya mukjijat.
Tiap kali kubuka mata kulihat Heni dan ayah selalu berjaga di dekat pembaringanku. Bahkan Heni sering tertidur sambil memeluk lenganku. Kadang-kadang ibu juga ikut sibuk merawatku. Barangkali ibu ingin menebus kesalahannya dengan memberikan sedikit perhatian sebelum ajalku tiba. Sebagai orang Kristiani, aku dimintakan sakramen pengurapan bagi orang sakit. Saat itu Pastur Christoporus datang ke rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta untuk memberikan sakramen pengurapan dan sekaligus memimpin do’a penyerahan. Setelah selesai memimpin doa aku dipeluknya. Dia memelukku dan meneteskan air mata penuh cinta. Cintanya padaku lebih dari cinta seorang pastur pada umatnya, karena dia adalah saudara kandung ayahku. Kini segalanya kami serahkan pada Tuhan.
Sungguh sebuah mukjijat yang luar biasa dalam hidupku. Tanpa harus diamputasi ternyata kakiku bisa sembuh. Sejak saat itu dalam keluargaku mulai terpancar kasih sejati. Secara berangsur-angsur kebencianku pada ibu terhapus. Kebencian itu kini telah berubah menjadi rasa sayang dan hormat. Masa lalu yang penuh warna dan irama tak mungkin terlupakan. Kenangan pahit bersama Heni membuat kami merasa sehati.
Anganku terbang jauh ke masa lalu. Entah berapa lama aku termenung di meja kerjaku. Setumpuk pekerjaan belum kusentuh. Aku tak menyadari kalau pak Joko yang duduk tak jauh dariku ternyata memperhatikan kegelisahanku.
“Kelihatannya kamu banyak masalah?” Tanya pak Joko memulai pembicaraan. Aku hanya menghela napas panjang. Dadaku terasa sesak dipenuhi perasaan gundah.
“Apa kamu sakit?”
“Tidak. Tapi istriku....” aku ingin menceritakan kondisi istriku, tapi dia terburu-buru memotong kalimat yang belum selesai kuucapkan.
“Jangan terlalu lemah menghadapi istri seperti dia!” ucapnya mengandung kebencian.
“Tapi sekarang istriku sedang sakit.”
“Anggap saja itu karma. Sudah selayaknya perempuan jahat seperti dia menerima azab.”
Aku tak mau berdebat dengannya tentang istriku. Sebab cara pandangnya terhadap istriku sudah terlanjur negatif. Sebenarnya Pak Joko juga bukan orang suci. Dia juga memiliki masa lalu yang hitam. Memang sangat sulit menghapus cap hitam yang telah terpatri dalam benak seseorang. Walaupun banyak orang menilai buruk tabiat istriku, aku berusaha ikhlas menerima apa adanya. Aku harus bisa mencintai istriku dalam keadaan untung maupun malang. Aku menyadari sepenuhnya bahwa sekarang cinta dan kesetiaanku sedang diuji. Pada saat istriku sakit aku merawatnya dengan penuh cinta. Aku berusaha mencurahkan cinta sehabis-habisnya.
Waktu seolah tak berjalan. Dua bulan lebih aku merawat istriku. Kondisi kesehatannya makin membaik. Walaupun masih pincang tetapi sudah bisa berjalan. Sudah sewajarnya bila aku bersyukur atas kesembuhan istriku. Intensi Misa Minggu ini kupersembahkan sebagai ungkapan rasa syukur kami. Istrikupun tak menolak ketika kuajak ke gereja. Ada secercah harapan bersinar dalam hidupku. Namun kebahagiaanku sedikit terganggu karena selama perayaan Ekaristi berlangsung, wajah istriku tampak gelisah.
“Ada apa? Apa sakit?” tanyaku dengan penuh perhatian.
“Tidak. Tapi setelah komuni kita pulang.”
“Ya.” Jawabku pelan. Sebenarnya aku tak mengerti apa maunya, tapi daripada ribut di gereja kuturuti saja apa maunya. Aku dan Putri menggandengnya meninggalkan gereja. Sepanjang perjalanan pulang istriku tak bicara sepatah katapun. Aku dan Putri merasa serba salah. Berkali-kali Putri memandangku penuh isyarat. Dia pasti bertanya-tanya tentang sikap ibunya.
Sampai di rumah suasana hati kami kian tak nyaman. Istriku marah-marah tanpa alasan yang jelas.
“Jangan ganggu Ibu! Aku mau istirahat.” Bentaknya sambil memandang Putri dengan wajah garang. Aku tak bisa tinggal diam melihat kejadian itu.
“Sebenarnya apa maumu? Kamu pikir sikapmu itu benar? Ibu macam apa kamu ini?” Emosiku meledak-ledak.
“Bela terus anakmu!”
“Orang tua yang baik seharusnya lebih peduli pada anak daripada mengejar kesenangan diri sendiri.”
“Kamu pikir dirimu peduli? Kamu bisa memahami dan menghargaiku” Dia membela diri.
“Seharusnya kamu belajar menghargai orang lain bila ingin dihargai.” Aku tak bisa menahan emosi. Namun hanya rasa sakit yang selalu kuterima darinya. Dia tidak peduli lagi padaku.
“Aku tidak butuh ceramahmu!” Dia menutup pintu kamar dengan kasar. Sesaat kemudian terdengar suara gaduh dalam kamar. Istriku mengamuk membabi buta. Dia menghancurkan semua barang dalam kamar. Sikapnya yang emosional dan kejam terhadapku sudah mulai kurasakan sejak tahun 2007. Kemungkinan besar itu pengaruh pergaulan bebas dan pil haram. Karena aku sering menemukan pil warna-warni di atas meja riasnya. Ketika kutanya dia mengatakan bahwa itu obat penenang karena sulit tidur. Sambil memeluk Putri, aku bertanya dalam hati.”Mungkinkah istriku masih mengkonsumsi obat haram itu?” Putri yang merasa ketakutan, masih berlindung dalam pelukanku. Aku segera menggendongnya keluar rumah. Di atas meja batu kami mencoba menumpahkan segenggam rasa duka yang menyesakkan dada. Meja batu tua itu selama ini mendengarkan keluh kesahku dengan setia. Sepasang mata indah Putri memandangku hampa. Ada perasaan trenyuh yang membuatku kian luluh.
“Apa salah Putri Yah?”
“Kamu tidak bersalah.”
“Tapi kenapa ibu marah?”
“Kita harus sabar ya. Ibu kan masih sakit.” Kupeluk anakku dengan penuh kasih. Ada perasaan pedih menusuk jantung hatiku. Rasanya aku benar-benar tak sanggup lagi memanggul salib kehidupan yang terlalu berat ini.
Siang itu dadaku nyaris meledak saat melihat wajah cantik putriku terluka. Dia berlari memelukku sambil menangis.
“Cerita pada ayah. Apa yang terjadi?”
“Ibu marah dan memukuli Putri.”
“Sekarang ibumu di mana?” Rasanya aku ingin memberi pelajaran perempuan jalang itu. Aku berdiri menuju kamar istriku, namun Putri mencegahku.
“Ibu sudah pergi dengan lelaki itu.” Jawabnya dengan isak tangis menyayat hati.
Kami berpelukan menahan luka hati yang makin perih. Dadaku mendadak sakit saat membayangkan kebejatan moral istriku. Luka di hati Putri mungkin akan sulit disembuhkan. Dia tak dapat melupakan peristiwa terburuk dalam hidupnya. Siang itu, sepulang sekolah, dia melihat ibunya bermesraan di kamar dengan lelaki, hidung belang. Nalurinya sebagai seorang anak terkoyak saat itu. Putri melemparkan tasnya sehingga mengenai tubuh lelaki itu. Namun ibunya marah dan menghajar Putri habis-habisan. Luka di wajah Putri mungkin bisa sembuh, namun luka di hati Putri akan membekas selamanya.
“Lebih baik aku tak punya ibu Yah. Aku tak akan pernah memaafkannya.”
“Ayah minta maaf, sebab ayah tak mampu mebuatmu bahagia. Ayah telah gagal sebagai kepala keluarga.” Kami berpelukan makin erat. Air matakupun jatuh membasahi rambut Putri. Tiba-tiba aku tersentak saat Putri merintih sambil berusaha melepaskan pelukanku.
“Punggung Putri sakit Yah.” Dia memandangku dengan mata polos tanpa dosa. Aku segera membuka bajunya dan memeriksa punggung anakku. Hatiku semakin sakit ketika melihat beberapa luka bekas cambukan di punggungnya. Dengan tangan bergetar kuobati lukanya. Dia merintih menahan perih.
“Perih Yah.”
“Tahan sebentar ya. Biar cepat sembuh.”
“Terima kasih Yah.” Sambil menahan isak tangis dia memelukku dan membenamkan wajahnya di dadaku. Kekerasaan terhadap anakku ini bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya Putri pernah dianiaya secara sadis hingga mengalami luka di wajahnya. Kala itu, Putri tidak kujemput karena ibunya berjanji akan menjemputnya. Namun ketika pulang sekolah, ibunya tidak menjemput. Istriku minta tolong seorang lelaki yang kemungkinan besar adalah selingkuhannya untuk menjemput Putri. Tentu saja anakku marah, namun lelaki itu memaksanya. Sementara istriku asyik di salon Yeni dekat mesjid Sidomakmur, mempercantik diri. Jika dia mempercantik diri untuk suami, mungkin bisa kumaklumi. Tapi yang dilakukan bukan untukku sebagai suami, melainkan untuk menarik perhatian lelaki hidung belang. Sungguh menyakitkan, karena istriku telah berubah menjadi perempuan laknat dan kelakuannya sangat biadab. Di salon itu anakku marah pada ibunya. Namun ibunya tak mau peduli, justru anakku dibentak-bentak dan dianiaya. Banyak orang yang menyaksikan kejadian itu. Demi mengumbar napsu binatangnya dengan lelaki itu, istriku tega mengorbankan anaknya sendiri. Bagaikan gelombang yang marah memecahkan buih kebusukan, begitulah gambaran istriku yang sudah kehilangan iman dan kasih. Bahkan harga dirinyapun sudah terkubur dalam lembah hitam penuh dosa. Walaupun aku tak melihat peristiwa di salon itu dengan mata kepalaku sendiri, tapi banyak informasi yang membuatku semakin benci terhadap kekejaman istriku. Memori di kepalaku yang menyimpan sederet kebejatan istriku tiba-tiba bermunculan dan membuat dadaku seolah akan meledak. Hari itu rasanya dunia akan segera kiamat. Namun demi anakku, aku harus bertahan.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1446 H
- LIBUR DAN CUTI BERSAMA PEMERINTAH KALURAHAN PETIR
- PENGAJIAN RUTIN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH
- SAFARI TARAWIH TIM KAPANEWON RONGKOP DI PADUKUHAN NGURAK URAK
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN WERU
- SAFARI TARAWIH PADUKUHAN DADAPAN
- PENGAJIAN AHAD PAGI MAJELIS TA'LIM USWATUN HASANAH