SECANGKIR KOPI HIDUPKU # 15

Administrator 15 November 2019 13:51:54 WIB

Tidak tahu berapa lama aku pingsan. Ketika siuman, Bu Dewi dengan beberapa teman sekantor telah mengerumuni aku. Anakku, Putri Kinasih, juga ada di dekatku. Putri Kinasih menciumi wajahku dengan tak henti-hentinya menangis.

“Ayah kenapa? Ayah harus sembuh demi Putri.” Demi anakku maka akupun segera membuka mata lebar-lebar dan berusaha tersenyum.

“Ayah pasti sembuh demi kamu.” Tanpa kusadari air mataku meleleh di pipi. Aku menatap wajah-wajah di sekitarku. Putriku dan teman-teman sekantor memenuhi ruang IGD rumah sakit dr. Soeroto Ngawi. Tapi istriku, tidak kulihat diantara mereka.

“Ibu sudah kuhubungi tapi HP nya gak aktif.” Suara Putri lirih. Sesungguhnya kalimat itu membuat dadaku tambah sakit, namun aku berusaha tersenyum.

“Tidak apa-apa. Kakak mana?”

“Main bola mungkin.” Jawab Putri sambil menoleh bu Dewi yang berjalan mendekati kami. Aku berusaha menahan air mata ketika melihat bu Dewi melangkah  mendekati  pembaringanku.

“Bapak istirahat dulu supaya cepat sehat.”

“Terima kasih Bu. Maaf merepotkan.”

“Kita ini keluarga Pak. Kami semua tulus membantu.”

“Terima kasih ibu dan bapak-bapak yang telah menolong ayah.”

“Sama-sama Putri. Kami pamit dulu ya.”

Bu Dewi dan beberapa teman sudah pulang. Sementara Pak Joko masih menunggu dokter Jimmy. Tak lama kemudian dokter Jimy datang. Dengan senyum khasnya dia menyapa kami.

“Hallo Putri cantik.” Sapa dokter Jimy sambil memegangi kepala putriku.

“Hallo juga dokter. Kapan ayah bisa pulang?” Tanya Putri polos.

“Kalau dadanya sudah nggak sakit, nanti boleh pulang. Tapi kalau kambuh lagi cepat hubungi dokter. Nomer saya disimpan kan?” Tanya dokter Jimy

“Masih dokter.”

“Ibunya nggak ada?” Tanya dokter Jimy pada Putri. Namun sebelum Putri menjawab Pak Joko terlebih dulu menyela pembicaraan.

“Maaf dokter. Untuk urusan lain-lain nanti saya yang bertanggung jawab. Yang penting Pak Setiawan cepat sembuh.”

“Tak usah khawatir. Pak Setiawan ini hanya terlalu capek. Nanti sudah bisa pulang kok. Tapi harus istirahat. Tidak boleh stress. Ini saya beri resep nanti jangan lupa diminum obatnya.”

“Kamu tunggu ayah di sini Putri. Biar saya yang ambil obatnya.” Tanpa membuang waktu Pak Joko pergi mengambil obat. Tak lama kemudian Pak Joko sudah kembali dengan membawa obat.

“Bagaimana? Masih terasa sakit nggak?” Tanya Pak Joko sambil menyodorkan obat.

“Nggak. Saya istirahat di rumah saja.”

“Pulang sekarang?”

“Iya. Kasihan Putri kalau di sini lama-lama.”

“Saya antar saja. Nanti motormu biar di kantor.”

“Jadi merepotkan.” Aku merasa tak enak. Tapi aku percaya kebaikan Pak Joko tulus.

Mobil melaju pelan sebelum akhirnya berhenti di depan rumahku. Hatiku menjerit ketika melihat istriku keluar dari rumah dengan dandanan ala artis yang siap pentas. Sementara rombongan artis lokal yang lain sudah menunggu dalam mobil. Pak Joko menolehku setelah melihat rombongan mobil yang menjemput istriku.

“Istrimu masih  terima job nyanyi?”

“Masih” jawabku pelan menahan perasaan getir. Tanpa pedulikan kami istriku berangkat bersama rombongan.

“Seandainya aku jadi dirimu, kuceraikan dia.” Pak Joko kesal melihat kelakuan istriku. Sambil menuntunku memasuki rumah tak henti-hentinya dia mengutuk. Bahkan tanpa basa-basi memintaku untuk menceraikan istriku.

“Kamu masih muda dan tampan. Lebih baik ceraikan dia dan menikah lagi. Kamu bisa mati muda kalau terus bersamanya.”

“Kadang aku juga berpikir begitu, tapi perceraian bukan jalan yang terbaik.”

“Tapi dengan cara bertahan juga tidak menyelesaikan masalah kan?”

Mendengar pembicaraan itu Putri Kinasih tertunduk diam. Segera kudekap dia dalam pelukanku. Kubiarkan dia mendengarkan jeritan hatiku lewat degup dadaku yang keras. Melihat sikap Putri yang tak bisa menyembunyikan kesedihan, Pak Joko menyesali  ucapannya. Tanpa disadari ucapannya menggoreskan luka baru dalam hatiku. Dia menepuk pundakku dengan tatapan teduh penuh penyesalan.

“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak mencampuri urusan keluargamu.”

“Tidak apa-apa.”

“Maaf, aku pulang dulu ya.”

“Terima kasih.”

“Putri, jaga ayah baik-baik ya. Jangan lupa ayah suruh minum obatnya.”

“Iya Pak.” Putri mengangguk. Pak Joko melangkah meninggalkan kami.

Sesaat suasana sepi. Sepasang mata indah Putri memandangku dengan tatapan kosong. Hatiku rasanya bagai teriris.

“Kamu sudah makan?” tanyaku berusaha menutupi kepedihan hati. Dia hanya menggeleng.

“Kamu harus makan. Kalau nggak makan dan kamu sakit, siapa yang merawat ayah?”  Aku semakin sedih ketika Putri tak mau makan. Tiba-tiba dia mendekapku lebih keras. Isak tangisnya semakin mengiris-iris hatiku.

“Apakah ayah mau bercerai?”

“Tidak Putri.”

“Kalau harus bercerai, aku ikut siapa?”

“Ayah tidak akan bercerai. Perceraian itu dibenci oleh Tuhan.” Aku berusaha tegar, tapi air mataku jatuh. Kupeluk erat, putriku tersayang. Dalam hatiku berjanji, sesakit apapun luka hati ini, aku akan bertahan demi anakku.

“Putri, kamu sayang ayah kan?” Dia mengangguk. Matanya berkaca-kaca menatapku.

“Kalau sayang, bantu ayah dengan do’a. Do’akan agar ibu segera bertobat dan bisa menjadi istri dan ibu yang baik dalam keluarga kita. Do’a anak baik seperti kamu pasti didengar oleh Tuhan.”

“Aku benci ibu.”

“Anak yang baik tidak pernah membenci ibunya. Kamu juga harus tetap sayang pada ibumu.”

“Tapi aku benci ibu.”

“Jangan pernah membenci seseorang. Apalagi dia ibumu. Membenci itu berarti menyakiti diri kita sendiri. Bahkan sebelum orang yang kita benci merasakan sakit karena kebencian kita, kita sudah sakit hati lebih dulu. Untuk itu bersihkan hati dari segala kebencian.”

“Bagaimana kita bisa mencintai orang yang membenci kita?”

“Do’akan dia. Biarkan Tuhan yang akan bertindak.”

“Aku tidak mengerti yang ayah katakan.”

“Ya sudahlah. Sekarang kita makan ya.”

“Ayah juga makan ya? Terus minum obat.” Anakku bangkit berdiri dan kulihat sinar keceriaan tersirat kembali di wajahnya. Hatikupun merasa lega. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengirimkan malaekat kecil ini sebagai sumber hidupku.   

Usai makan dan minum obat, aku ingin beristirahat. Tapi perasaan gundah membuatku tak bisa beristirahat dengan nyaman. Kamar yang pengap ini membuat napasku semakin sesak. Aku berjalan ke teras. Kulihat Putri sedang duduk termenung sendirian.

“Kamu nggak belajar?” tanyaku pelan.

“Malam Minggu Yah.”   

            “Ayah sudah tua ternyata. Sudah nggak mampu mengingat hari.”

            “Apa bedanya ingat hari Minggu dan tidak? Nggak ada bedanya Yah.”

            “Benar. Semua hari sama baiknya. Tinggal bagaimana kita mengisi hari-hari kita. Karena indah tidaknya hari-hari kita tergantung pada kita sendiri.”

            “Maksud Ayah...?” Tanya Putri bernada mendesak meminta penjelasan dariku.

            “Maksud Ayah hidup kita bisa menjadi baik atau buruk, senang atau sedih tergantung kemauan kita sendiri. Kalau kita mau senang ya senanglah hidup kita. Tapi kalau kita ingin sedih ya sedihlah hidup kita.”

            “Putri nggak ngerti Yah.” Dia makin penasaran. Aku sendiri jadi bingung untuk menjelaskan.

            “Begini Putri, Orang hidup itu punya keinginan. Tapi jika keinginan itu tidak sesuai kata hati akan menimbulkan masalah. Untuk itu kita harus mau dan mampu mendengarkan suara hati. Karena suara hati itu sumber kebenaran dalam hidup kita.”

            “Saya makin nggak paham. Kalau Ayah punya bukunya nanti saya baca sendiri. Kalau nggak paham saya tanya lagi.”

            “Waduh.., saya lupa bukunya. Tapi intinya hidup ini akan menjadi indah jika kita selalu berpikir positif. Bila ingin dicintai maka harus mencintai lebih dulu. Bila ingin dihormati maka harus menghormati, bila ingin dihargai harus menghargai dan seterusnya.”

            Tanpa terasa malam semakin larut. Kami berdua berdiskusi panjang lebar tentang hidup. Aku tak yakin kalau anakku yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar bisa memahami maksudku. Tapi aku senang, anakku cukup responsif. Tiba-tiba terdengar petir menggelegar dan hujanpun turun cukup lebat. Sejak kecil putriku selalu ketakutan saat hujan lebat disertai petir.

            “Takut Yah. Kita ke dalam.” Putri menggapai tanganku. Akupun segera memeluknya.

            “Kita tidur saja Yah. Ibu tak mungkin pulang.”

            “Baiklah. Kita berdo’a dulu.” Kami tak pernah lupa berdo’a. Usai berdo’a anakku segera menarik lenganku untuk meletakkan kepalanya. Sementara kedua tangannya memeluk guling. Sesaat kemudian dia tertidur pulas. Dia selalu nyaman tidur di sisiku. Anakku sangat jarang tidur dalam pelukan ibunya seperti anak-anak lainnya. Aku merupakan ayah, teman dan sekaligus ibu baginya.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung